Zulaikha memilih membebaskan seluruh pelayannya ketika kelaparan melanda Mesir dan ia tak lagi mampu menjamin kebutuhan mereka. Keputusan berat itu diambil agar para pelayan dapat memperoleh jatah gandum sebagai warga merdeka.
Di saat yang sama, Yuzarsif atau Nabi Yusuf terus dihantui bayangan seorang perempuan tua dalam mimpinya. Ia merasa pernah mengenal sosok itu, tanpa menyadari perempuan tersebut adalah Zulaikha yang datang diam-diam ke silo gandum.
Zulaikha Mengutamakan Keselamatan Pelayan
Dalam alur serial Nabi Yusuf, aturan pemerintah membedakan tanggung jawab pangan bagi warga miskin merdeka dan budak. Fakir miskin yang telah merdeka ditanggung negara, sedangkan kebutuhan budak tetap menjadi tanggung jawab majikannya.
Kondisi itu membuat Zulaikha menyerahkan sertifikat kebebasan kepada Hoya, Tiameni, Tam, serta para pelayan lainnya. Mereka sempat menolak meninggalkannya karena kesetiaan, tetapi Zulaikha meminta mereka pergi demi bertahan dari paceklik.
Zulaikha kini menjalani hidup dalam kemiskinan dan tinggal di istana yang sunyi. Penglihatannya terus memburuk akibat usia, tangisan, dan kerinduan yang dipendamnya kepada Yuzarsif.
Ia memilih tidak memperlihatkan wajahnya yang telah berubah kepada Yuzarsif, walau tetap ingin berada dekat dengannya. Karena itu, Zulaikha mendatangi tempat pembagian pangan, sementara Yuzarsif belum mengetahui kehadirannya.
Gandum Menjadi Penopang Mesir
Krisis dimulai setelah tujuh tahun kemakmuran berlalu, sesuai ramalan Yuzarsif. Tanaman dan pepohonan disebut layu dalam satu malam, sedangkan rasa lapar membuat banyak penduduk terbangun dari tidur.
Cadangan gandum yang dikelola Yuzarsif kemudian menjadi tumpuan rakyat menghadapi paceklik yang diperkirakan berlangsung tujuh tahun. Media Indonesia menyebut gandum disimpan bersama batangnya agar persediaan di silo tetap terjaga.
Yuzarsif turun langsung mengawasi distribusi pangan untuk mencegah penimbunan dan pencurian. Jatah gandum diberikan setiap bulan, bukan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan selama setahun.
Petani tidak menerima pembagian dari silo karena diwajibkan telah memiliki cadangan saat masa subur. Kebijakan itu memprioritaskan pengrajin dan penduduk kota melalui pembayaran yang dinilai lebih adil.
| Kelompok | Harga Gandum | Tujuan Kebijakan |
|---|---|---|
| Masyarakat biasa | 1 deben per takar | Menjaga akses pangan rakyat |
| Imam Kuil Amon dan golongan kaya | 3 deben per takar | Membebankan biaya krisis kepada pihak yang mampu |
Konflik dengan Kuil Amon Menguat
Perbedaan harga gandum memicu keberatan dari para imam Kuil Amon yang menginginkan keistimewaan bagi pelayan kuil. Pemerintah menilai beban penanggulangan kelaparan tidak semestinya dipikul masyarakat miskin.
Persediaan pangan Kuil Amon hanya disebut cukup untuk satu tahun, sehingga pengaruhnya melemah di tengah krisis. Para imam yang dipimpin Angmahu kemudian bersiap menemui Firaun Akhenaten untuk meminta gandum gratis atau harga lebih rendah.
Ancaman penggunaan kekuatan militer muncul apabila upaya diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan. Di tengah tekanan politik tersebut, Yuzarsif tetap memusatkan perhatian pada penyaluran gandum kepada rakyat.
Kanaan Turut Menghadapi Paceklik
Kelaparan juga mulai menjalar ke Kanaan, tempat Nabi Yakub mengalami gangguan penglihatan karena terus menangisi Yusuf. Melika, pemimpin kafilah, menyampaikan kabar tentang gubernur Mesir bernama Yuzarsif kepada Nabi Yakub.
Nama itu terdengar mirip dengan Yusuf, tetapi Nabi Yakub belum mengetahui bahwa gubernur Mesir tersebut adalah putranya. Ia meminta anak-anaknya, termasuk Benyamin, bersiap menghadapi masa sulit dan menyimpan gandum sebanyak mungkin.
Sementara Kanaan dan Mesir sama-sama berada dalam tekanan paceklik, pertemuan Yuzarsif dengan perempuan tua dalam mimpinya menjadi pertanda yang belum dipahaminya. Zulaikha sebenarnya telah berada sangat dekat, menanti di sekitar silo gandum yang menjadi pusat harapan rakyat Mesir.






