Pertumbuhan tinggi anak belum tentu berhenti pada awal masa remaja. Lamine Yamal menjadi contoh pesepak bola yang bertambah sekitar 10 sentimeter pada rentang usia 15 hingga 17 tahun.
Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.End., menyampaikan contoh tersebut dalam bincang-bincang virtual yang dikutip Kompas.com. Perubahan tinggi pada fase pubertas akhir dapat terjadi selama lempeng epifisis tulang belum menutup.
Setiap Anak Memiliki Waktu Tumbuh Berbeda
Lempeng epifisis merupakan bagian tulang yang berperan dalam proses pertambahan tinggi badan. Waktu penutupannya tidak sama pada setiap anak, sehingga peluang untuk terus tumbuh juga berbeda.
Anak yang terlihat tumbuh lebih lambat daripada teman sebayanya dapat berada pada fase late bloomer. Kondisi tersebut tidak langsung menunjukkan masalah, selama pertumbuhan dan kesehatannya dipantau dengan baik.
Harapan agar anak bertambah tinggi perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Tinggi badan dipengaruhi oleh genetik, kondisi medis, nutrisi, dan proses perkembangan tulang, bukan oleh satu makanan tertentu.
| Tokoh | Gambaran Pertumbuhan | Hal yang Perlu Diperhatikan |
|---|---|---|
| Lamine Yamal | Tambahan sekitar 10 cm pada usia 15-17 tahun | Pertumbuhan dapat berlanjut pada pubertas akhir |
| Lionel Messi | Defisiensi hormon pertumbuhan saat kanak-kanak | Perlu evaluasi medis untuk hambatan tertentu |
| Erling Haaland | Postur tinggi dipengaruhi keturunan | Genetik tidak dapat disamakan pada semua anak |
Hambatan Tumbuh Perlu Dibedakan dari Variasi Alami
Kasus Lionel Messi menunjukkan bahwa masalah pertumbuhan tidak selalu selesai dengan memperbaiki pola makan. Ia pernah didiagnosis mengalami defisiensi hormon pertumbuhan pada masa kanak-kanak.
Kekurangan hormon tersebut membuat tinggi badan Messi tertinggal dari teman seusianya. Dalam kondisi seperti ini, terapi hormon pertumbuhan dapat menjadi intervensi medis untuk membantu anak mencapai pertumbuhan sesuai kondisinya.
Dr. Aman menekankan terapi diberikan apabila anak memang tidak tumbuh akibat kekurangan hormon. Keputusan itu harus melalui pemeriksaan tenaga medis dan tidak boleh didasarkan pada asumsi semata.
Orangtua perlu memperhatikan riwayat pertumbuhan serta kondisi fisik anak sebelum menentukan langkah lanjutan. Evaluasi dokter diperlukan untuk membedakan gangguan kesehatan dari perbedaan pola tumbuh yang masih alami.
Genetik dan Gizi Seimbang Lebih Penting daripada Meniru Atlet
Postur Erling Haaland tidak dapat dipisahkan dari faktor keturunan. Dr. Aman menjelaskan anak dari latar genetik tertentu dapat secara perlahan mengikuti jalur pertumbuhannya, termasuk lewat proses catch up physiologic mendekati usia tiga tahun.
Kecenderungan tinggi badan pada keturunan Kaukasia dapat berbeda dari kurva pertumbuhan populasi lain. Karena itu, tinggi anak Indonesia tidak tepat dibandingkan secara langsung dengan atlet Eropa.
Tren konsumsi protein sangat tinggi juga bukan cara yang harus diikuti keluarga. Anak-anak di Asia tetap dapat tumbuh optimal dengan nasi atau mi sebagai makanan pokok apabila kebutuhan gizi seimbang terpenuhi.
Asupan protein hingga ratusan gram per hari dapat membebani ginjal. Bila kelebihan energi tidak digunakan tubuh, pola makan itu juga berisiko memicu obesitas.
Pemantauan tinggi badan perlu berfokus pada potensi tubuh anak, bukan pada target menyerupai pemain sepak bola tertentu. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi pertumbuhan yang sehat sekaligus membantu mendeteksi hambatan medis bila diperlukan.






