Longsor akibat runtuhnya gunung di Chongqing menewaskan 51 orang, menjadi salah satu peringatan paling keras atas risiko bencana alam di China. Di tengah rentetan korban tersebut, Presiden China Xi Jinping mendesak penguatan besar pada sistem pencegahan dan respons bencana.
Xi menilai ancaman tidak boleh dibiarkan berkembang hingga mengganggu kehidupan masyarakat dan stabilitas sosial. Perlindungan terhadap jiwa serta harta benda warga ditempatkan sebagai prioritas dalam menghadapi cuaca yang makin destruktif.
Korban Jiwa di Dua Wilayah
Selain tragedi di Chongqing, longsor yang dipicu banjir bandang di Provinsi Gansu pada bulan lalu juga merenggut 25 nyawa. Dua peristiwa itu terjadi di wilayah berbeda, tetapi sama-sama menunjukkan besarnya dampak bencana yang menyertai cuaca ekstrem.
| Lokasi | Pemicu | Korban Tewas |
|---|---|---|
| Provinsi Gansu | Longsor dipicu banjir bandang | 25 orang |
| Chongqing | Runtuhnya gunung | 51 orang |
China juga baru menghadapi topan terkuat pada tahun ini serta hujan deras yang sempat merendam jalan-jalan utama di ibu kota. Sejumlah kendaraan dilaporkan terjebak ketika curah hujan tinggi mengganggu mobilitas di kawasan perkotaan.
Rangkaian banjir, topan, dan longsor tersebut memperkuat urgensi pembenahan sistem kesiapsiagaan. Para ilmuwan mengaitkan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dengan perubahan iklim.
Pencegahan Menjadi Prioritas
Dalam pernyataan yang diterbitkan jurnal Qiushi pada Sabtu (15/8), Xi meminta perubahan pendekatan dari penanganan setelah kejadian menjadi pencegahan sebelum dampak meluas. Pernyataan itu berasal dari pidatonya dalam sesi belajar Politbiro pada 28 April.
Penguatan pemantauan dan sistem peringatan dini menjadi bagian utama dari arahan tersebut. Xi juga menyoroti perlunya memperbaiki kelemahan infrastruktur pengendalian banjir dan drainase, terutama di wilayah utara China.
Menurut Xi, pemanasan global membuat hujan lebat, banjir, topan, dan kekeringan meningkat secara signifikan. Dampaknya dapat menjadi lebih berat saat bencana menerjang daerah padat penduduk atau kawasan dengan infrastruktur yang rentan.
“Seiring pemanasan global terus berlanjut, kejadian cuaca ekstrem dan bencana seperti hujan lebat, banjir, topan, dan kekeringan meningkat secara signifikan, sehingga memperparah dampak kerusakannya,” kata Xi, dikutip Reuters.
Teknologi untuk Mempercepat Respons
Pemerintah China juga didorong memperluas pemanfaatan teknologi dalam operasi penyelamatan dan penanganan bencana. Teknologi yang disebut Xi meliputi kecerdasan buatan atau AI, drone, dan penginderaan jauh berbasis satelit.
Pemanfaatan teknologi itu diharapkan memperkuat kemampuan mendeteksi risiko serta mendukung respons ketika bencana terjadi. Langkah tersebut menjadi bagian dari pembangunan kapasitas yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai ancaman alam.
Kondisi tahun ini berlangsung di tengah pola El Niño yang meningkatkan suhu serta memicu topan lebih sering dan lebih intens. Situasi itu menambah tekanan bagi upaya Mitigasi Bencana China di tengah perubahan pola cuaca.
Xi menegaskan penanganan risiko juga harus mencegah bencana berkembang menjadi gangguan terhadap keamanan ekonomi, energi, pangan, dan sosial. “China akan terus meningkatkan kemampuan dan tingkat pencegahan serta respons terhadap berbagai bencana alam, dan secara efektif menjaga kehidupan dan harta benda masyarakat serta stabilitas sosial,” kata Xi Jinping.






