Wacana Piala Dunia 2030 dengan 64 peserta menjadi salah satu alasan utama Javier Tebas melontarkan kritik keras kepada FIFA. Presiden LaLiga itu menilai perluasan turnamen internasional berisiko mengorbankan kompetisi nasional yang menjadi fondasi industri sepak bola.
Tebas juga mendesak Gianni Infantino meninggalkan jabatan Presiden FIFA. Menurutnya, kebijakan yang terus memberi ruang lebih besar bagi agenda internasional tidak sejalan dengan kebutuhan liga dan klub yang beroperasi sepanjang musim.
Piala Dunia Bukan Satu-Satunya Penopang Sepak Bola
Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport yang dikutip Medcom, Tebas menegaskan bahwa Piala Dunia memang turnamen paling penting. Namun, ia menolak pandangan bahwa industri sepak bola dapat bertumpu pada ajang yang hanya berlangsung dalam waktu terbatas.
“Meningkatkan jumlah tim nasional tidak masuk akal. Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia,” ujar Tebas. Ia menilai liga domestik menciptakan puluhan ribu pekerjaan serta menopang kegiatan klub secara berkelanjutan.
Tebas menyebut kompetisi nasional sebagai penopang utama olahraga tersebut. Karena itu, tekanan tambahan pada kalender pertandingan dipandang dapat merusak struktur yang selama ini menjaga keberlangsungan sepak bola.
Rangkaian Kebijakan yang Dipertanyakan
Kritik Tebas tidak hanya menyasar jumlah peserta Piala Dunia. Ia juga mempertanyakan cooling break pada pertandingan Piala Dunia 2026 serta jeda babak pertama final yang diperpanjang menjadi 27 menit.
| Perkara | Fakta | Sudut Kritik |
|---|---|---|
| Piala Dunia 2030 | Usulan 64 peserta dari CONMEBOL | Menambah beban kalender sepak bola |
| Cooling break 2026 | Jeda hidrasi di tengah pertandingan | Dinilai berpotensi menjadi ruang iklan |
| Final Piala Dunia 2026 | Jeda babak pertama 27 menit | Dianggap mengedepankan pertunjukan |
LaLiga juga menerapkan jeda hidrasi, tetapi Tebas mengatakan kebijakan itu digunakan saat cuaca sangat panas. Ia mempertanyakan kebutuhan cooling break ketika sejumlah stadion Piala Dunia telah menggunakan pendingin udara.
“FIFA mengatur semuanya sesuai keinginannya sendiri, bukan demi sepak bola. Cooling break itu hanya alasan,” kata Tebas. Ia menduga kebijakan tersebut lebih terkait dengan kepentingan iklan daripada alasan teknis pertandingan.
Suporter Eropa Menilai Komersialisasi Berlebihan
Football Supporters Europe atau FSE menyampaikan kekhawatiran serupa tentang Piala Dunia 2026. Organisasi itu menilai penyelenggaraan turnamen semakin mengutamakan hiburan dan kepentingan komersial dibanding pengalaman suporter.
FSE menyoroti harga tiket yang tinggi, transportasi yang mahal, serta komunikasi yang dinilai tidak transparan. Mereka meminta tata kelola FIFA diperbaiki agar suara liga, klub, pemain, dan suporter turut diperhitungkan.
Desakan Mundur Berhadapan dengan Dukungan Federasi
Tebas mengakui tuntutannya terhadap Gianni Infantino sulit diwujudkan dalam waktu dekat. Ia menilai presiden FIFA itu mendapat dukungan besar dari sistem dan federasi anggota.
“Dalam pandangan saya, ya, waktunya sudah habis. Namun dia mendapat dukungan dari sistem dan federasi, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan,” ujar Tebas. Ia menambahkan bahwa banyak pihak disebut menentang Infantino, tetapi tidak mengambil tindakan.
Infantino telah menyatakan akan maju kembali dalam pemilihan Presiden FIFA untuk periode 2027-2031. Pemilihan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret 2027 di Maroko.






