Teheran menegaskan Selat Hormuz tidak dapat direbut dengan kapal induk ataupun pidato kampanye. Pernyataan itu menjadi respons langsung Iran atas ucapan Donald Trump yang menyebut AS akan segera mendeklarasikan jalur laut tersebut sebagai wilayahnya.
Penolakan keras ini memperlihatkan perbedaan posisi yang tajam antara Iran dan Amerika Serikat terkait salah satu rute pelayaran paling strategis di dunia. Ketegangan tersebut penting karena Selat Hormuz dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair global.
Pernyataan Iran melalui Kazem Gharibabadi
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyampaikan sikap Teheran lewat unggahan di platform X pada Sabtu dini hari. Ia mengatakan Iran tidak gentar menghadapi ancaman atau unjuk kekuatan dari Washington.
Gharibabadi menilai pembukaan dan penutupan jalur perairan itu berada di bawah wewenang Iran. Reuters melaporkan ia kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi milik Iran, dulu, kini, hingga nanti.
Sikap tersebut menolak gagasan bahwa kekuatan militer dapat menentukan penguasaan atas jalur perairan strategis itu. Iran juga tidak menerima klaim politik Washington mengenai masa depan selat tersebut.
Ucapan Trump Masih Menyisakan Pertanyaan
Trump melontarkan pernyataan itu pada Jumat, 14/8/2026, saat meresmikan Akademi Kepolisian Nassau County yang baru di Garden City, New York. Ia menyatakan akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS.
Trump menghubungkan rencana tersebut dengan pandangannya bahwa Iran terus terdesak dalam perang yang masih berlangsung. Anadolu Agency melaporkan pernyataan itu disampaikan di hadapan acara peresmian akademi kepolisian tersebut.
“Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan sangat parah, tak lama lagi saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS,” kata Trump. Belum ada kepastian apakah pernyataan itu merupakan kebijakan resmi baru pemerintah Amerika Serikat atau sekadar pernyataan politik.
| Pihak | Pernyataan | Lokasi atau Waktu |
|---|---|---|
| Kazem Gharibabadi | Selat Hormuz berada di bawah wewenang Iran | Unggahan X, Sabtu dini hari |
| Donald Trump | AS akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayahnya | Garden City, Jumat 14/8/2026 |
Taruhan bagi Pasar Energi Global
Selat Hormuz memegang peran sentral dalam perdagangan energi karena menjadi lintasan bagi minyak dan LNG dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan ini dapat langsung memengaruhi kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan.
Risiko tersebut dapat meningkat apabila ketidakpastian berlangsung dalam jangka panjang. Harga minyak dunia berpotensi mendapat tekanan karena pasar akan memperhitungkan kemungkinan hambatan pada jalur distribusi utama.
Perselisihan ini tidak hanya menyangkut klaim politik antara dua negara. Perkembangan di Selat Hormuz juga akan diperhatikan oleh negara-negara yang bergantung pada pengiriman energi melalui rute tersebut.
Jalur Strategis Tetap Sensitif
Sejauh ini, Iran telah menyatakan penolakan tegas terhadap pernyataan Trump. Sementara itu, Washington masih menyisakan pertanyaan mengenai tindakan nyata yang mungkin ditempuh terkait Selat Hormuz.
Selama ketidakjelasan itu belum berakhir, jalur laut tersebut akan tetap menjadi titik sensitif bagi keamanan kawasan dan arus energi internasional. Pasar akan terus mencermati apakah ketegangan politik itu berkembang menjadi gangguan terhadap pelayaran.






