Timnas Futsal Indonesia telah mengumpulkan hasil kuat di level regional dan Asia, tetapi jalan menuju panggung dunia masih sangat panjang. Pelatih Hector Souto memperkirakan Indonesia membutuhkan hingga 20 tahun untuk dapat bersaing dengan kekuatan terbesar futsal.
Perkiraan itu menjadi pengingat bahwa gelar regional tidak otomatis membuat Indonesia sejajar dengan negara elite. Target berikutnya adalah meningkatkan kualitas permainan agar skuad mampu menghadapi tim-tim dari Eropa dan Amerika Selatan.
Prestasi Menjadi Modal untuk Naik Kelas
Merah Putih menjuarai Piala AFF Futsal 2024 dan meraih medali emas SEA Games 2025. Indonesia juga mencatatkan posisi runner-up pada Piala Asia 2026.
Hasil tersebut memperlihatkan perkembangan tim dalam persaingan kawasan dan kontinental. Namun, Souto memandang pencapaian itu sebagai titik awal untuk membangun ambisi yang lebih besar.
Fokus jangka panjang Timnas Futsal Indonesia mengarah pada peningkatan level permainan menuju Piala Dunia Futsal 2028. Untuk sampai ke tahap itu, tim perlu terbiasa menghadapi kualitas lawan yang berbeda dari persaingan regional.
Tiga Klub Eropa Menjadi Tolok Ukur
Indonesia akan menjalani pemusatan latihan di Spanyol pada 11-24 Agustus. Agenda itu mencakup pertandingan melawan Palma dan Noia dari Spanyol serta Braga dari Portugal.
| Bagian Program | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi pemusatan latihan | Spanyol |
| Periode kegiatan | 11-24 Agustus |
| Klub lawan | Palma, Noia, dan Braga |
Laga-laga tersebut diproyeksikan sebagai ujian untuk melihat standar permainan yang harus dikejar Indonesia. Souto menekankan bahwa penerapan aspek baru dalam permainan lebih penting daripada sekadar catatan kemenangan.
Ia mengakui timnya bisa saja gagal menang dalam seluruh pertandingan tersebut. Meski demikian, duel melawan lawan lebih kuat dinilai perlu untuk membentuk kematangan skuad.
Jarak dengan Negara Elite
Brasil, Portugal, Spanyol, dan Argentina menjadi empat negara yang disebut Souto sebagai rujukan utama futsal dunia. Keempatnya menempati empat posisi teratas ranking FIFA, dengan Brasil berada di peringkat pertama.
Souto menilai kualitas pemain Eropa dan Amerika Selatan masih lebih baik daripada Indonesia. “Jujur saja, pemain di Eropa dan Amerika Selatan masih lebih baik,” ujar pelatih asal Spanyol itu seperti dikutip CNN Indonesia.
Kesenjangan itu, menurutnya, tidak berdiri sendiri pada level tim nasional senior. Sistem pembinaan pemain usia muda menjadi salah satu alasan negara-negara tersebut mampu terus menghasilkan kualitas pemain.
Seleksi Dini Menentukan Fondasi
Di Eropa dan Amerika Selatan, proses pembinaan dimulai sejak kelompok U-6, U-8, dan U-10. Pemain terbaik kemudian terus diseleksi pada setiap musim.
“Di sana [Eropa dan Amerika Selatan] mereka memulai dari U-6, U-8, U-10, dan selalu memilih yang terbaik setiap musimnya,” kata Souto di Jakarta, Selasa (28/7). Indonesia memiliki situasi berbeda karena pemain berusia 15 atau 16 tahun dapat langsung mendapat kontrak klub.
Peluang bermain di klub memberi pengalaman kompetitif bagi pemain muda Indonesia. Akan tetapi, sistem tersebut belum sepenuhnya menyamai tahapan pembinaan panjang yang telah dibangun negara-negara futsal mapan.
Karena itu, perjalanan menuju level dunia tidak hanya bergantung pada satu turnamen atau tiga pertandingan di Eropa. Kesinambungan pembinaan serta pengalaman bertanding akan menjadi penentu dalam mengejar target 20 tahun yang dipasang Souto.






