Kondisi hidup yang serba terbatas dilaporkan menambah tekanan bagi awak USS Abraham Lincoln selama penugasan hampir sembilan bulan. Di tengah situasi tersebut, dua pelaut disebut mencoba terjun dari kapal induk AS itu ke laut dalam sepekan terakhir.
Persoalan yang dilaporkan mencakup menipisnya kebutuhan dasar dan sanitasi yang memburuk di atas kapal. Tekanan itu hadir bersamaan dengan jam kerja panjang, keterbatasan ruang, serta ancaman operasi tempur.
Lingkungan Hidup yang Menekan Awak
Jonathan Schroden, kepala petugas penelitian di Center for Naval Analyses, menjelaskan bahwa kehidupan di kapal induk memiliki tantangan besar bahkan pada masa damai. Penugasan yang lebih lama membuat beban tersebut dapat semakin menumpuk.
“Bahkan dalam kondisi damai pun, tempat tinggal mereka sempit dengan hari kerja yang panjang, makanannya tidak enak, sulit untuk mendapatkan udara segar, berolahraga, dan bahkan tidur malam yang layak,” kata Schroden. Gambaran itu menunjukkan keterbatasan yang dihadapi pelaut dalam rutinitas sehari-hari di laut.
TRT World melaporkan situasi persediaan kebutuhan dasar dan sanitasi menambah beban psikologis awak. Para pelaut harus menjalani masa tugas yang panjang tanpa akses mudah ke kondisi hidup seperti di daratan.
Schroden juga menekankan bahwa risiko operasi tempur memperberat tekanan tersebut. Kapal yang terus berada dalam ancaman membuat beban tugas tidak hanya datang dari kehidupan di ruang terbatas.
Insiden yang Memicu Perhatian
Navy Times, yang dikutip Beritasatu.com, melaporkan dua pelaut mencoba melompat dari USS Abraham Lincoln dalam sepekan terakhir. Peristiwa itu memicu perhatian terhadap kondisi kesejahteraan awak kapal selama penugasan yang melampaui durasi umum.
Angkatan Laut AS belum memberikan tanggapan kepada media mengenai laporan kondisi di kapal tersebut. Belum ada keterangan resmi tentang dampak insiden maupun situasi awak terhadap kesiapan operasional kapal.
Sejumlah anggota parlemen AS meminta penjelasan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth terkait kondisi USS Abraham Lincoln. Hegseth membantah laporan mengenai situasi itu dan menyatakan keadaan di kapal telah disalahartikan.
Penugasan Berubah dari Rencana Awal
USS Abraham Lincoln berangkat dari California pada November 2025 dengan tujuan awal penugasan ke Laut Cina Selatan. Kapal tersebut kemudian dialihkan ke Timur Tengah sebelum perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026.
| Tahap | Waktu | Keterangan |
|---|---|---|
| Keberangkatan | November 2025 | Meninggalkan California menuju Laut Cina Selatan |
| Pengalihan tugas | Sebelum 28 Februari 2026 | Diarahkan ke Timur Tengah |
| Durasi operasi | Hampir 9 bulan | Lebih panjang dari rancangan umum enam bulan |
Kelompok tempur kapal induk pada umumnya dirancang beroperasi sekitar enam bulan. Batas tersebut mempertimbangkan kebutuhan pelaut yang bekerja dan tinggal dalam lingkungan tertutup untuk waktu lama.
Penugasan USS Abraham Lincoln yang mendekati sembilan bulan telah melampaui pola tersebut. Masa tugas yang panjang juga berlangsung ketika kapal menghadapi konteks perang dan operasi tempur.
Dampak Jangka Lanjut bagi Armada
Menurut Schroden, durasi operasi yang melampaui rencana berpotensi memunculkan persoalan setelah kapal kembali. Pemulihan awak dan perawatan kapal dapat menjadi kebutuhan yang saling berkaitan setelah masa tugas panjang.
Angkatan Laut AS berpotensi menanggung biaya perawatan yang lebih tinggi dan memiliki waktu kesiapan lebih singkat sebelum kapal kembali dikerahkan. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai bagaimana kondisi di USS Abraham Lincoln akan memengaruhi tahap operasional berikutnya.






