Satu Kilometer Tanggul Rusak Ditangani Usai Banjir, Akses Tapanuli Tengah Dipulihkan

Pemulihan akses menuju kawasan terdampak banjir di Tapanuli Tengah berjalan bersama perbaikan tanggul yang rusak. Ruas Jalan Sipange–KM 14 dikerjakan menggunakan alat berat dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional agar pergerakan warga dan logistik lebih lancar.

Di Hutanabolon, Kecamatan Tukka, empat titik tanggul jebol sedang diperbaiki sepanjang sekitar satu kilometer. Penanganan dilakukan untuk mencegah air kembali melimpas ke permukiman dan jalan.

Jalur dan Sungai Ditangani Bersamaan

Normalisasi Sungai Silaga-laga telah dilakukan dengan tiga unit ekskavator. Peralatan itu berasal dari unsur swasta, Dinas Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Utara, dan Dinas PUPR Kabupaten Tapanuli Tengah.

BNPB juga menyiapkan dukungan tambahan untuk normalisasi sungai dan penguatan tebing di Sipange. Bantuan tersebut mencakup dua ekskavator, satu ekskavator mini, dua ekskavator lengan panjang, dua dump truck, serta 5.000 jumbo bag.

Lokasi PenangananPekerjaanDukungan Utama
HutanabolonPerbaikan 4 titik tanggulPenanganan sekitar 1 kilometer
SipangePenanganan tanggul dan tebingPeralatan tambahan dan 5.000 jumbo bag
Sungai Silaga-lagaNormalisasi sungai3 unit ekskavator
Jalan Sipange–KM 14Pemulihan aksesAlat berat BPJN

Material dan alat dari BNPB disiapkan untuk menangani tanggul sepanjang 400 meter di Sipange. Pekerjaan tersebut dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Balai Besar Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum.

Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera melalui BNPB mendampingi proses penanganan darurat. Fokusnya meliputi keselamatan warga, kebutuhan pengungsi, pembersihan lumpur, perbaikan tanggul, hingga normalisasi aliran sungai.

Luapan Air Melanda Tiga Kecamatan

Banjir terjadi pada Sabtu, 18 Juli 2026, sekitar pukul 18.00 WIB setelah hujan deras membuat sejumlah sungai meluap. Genangan setinggi sekitar 30 sentimeter hingga satu meter dilaporkan terjadi di Kecamatan Tukka, Badiri, dan Pinangsori.

Luapan Sungai Aek Sagala dan Aek Harse di Kecamatan Tukka merusak bagian tanggul di sekitar Sipange, Bonalumban, dan Hutanabolon. Air kemudian masuk ke kawasan permukiman serta badan jalan.

Sungai Lopian di Lingkungan I, Kelurahan Lopian, Kecamatan Badiri, juga melampaui tanggul dan menggenangi permukiman. Sementara itu, banjir di Lingkungan III, Kelurahan Albion Prancis, Kecamatan Pinangsori, telah surut.

KecamatanSungai atau LokasiKondisi
TukkaAek Sagala dan Aek HarseTanggul rusak dan air masuk ke permukiman
BadiriSungai LopianAir melampaui tanggul
PinangsoriKelurahan Albion PrancisGenangan telah surut

Hingga pembaruan laporan pada Selasa, 21 Juli 2026, tidak ada korban jiwa akibat banjir tersebut. Pemerintah daerah masih mendata kerugian material yang dialami warga dan wilayah terdampak.

Warga di Kecamatan Tukka menghadapi lumpur yang tersisa setelah air surut. Pembersihan rumah dan lingkungan dilakukan secara gotong royong sambil pemulihan infrastruktur dilanjutkan.

Warga Diimbau Mengungsi

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah mengimbau warga yang masih berada di rumah agar segera mengungsi. Pemerintah juga menyiapkan satu unit perahu fiber untuk membantu evakuasi dan penyelamatan.

Dalam laporan tim yang dipimpin Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi BNPB Nelwan Harahap disebutkan, “Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah mengimbau warga yang masih berada di rumah agar segera mengungsi dan menyiapkan satu unit perahu fiber untuk mendukung evakuasi dan penyelamatan.” Penanganan pengungsi antara lain dipusatkan di HKBP Sipange dengan dukungan dapur umum.

BPBD Provinsi Sumatera Utara telah menyalurkan 170 paket sembako, 100 selimut, dan 100 matras kepada warga terdampak. Bantuan juga mencakup perlengkapan kebersihan, kebutuhan mandi, minyak goreng, serta popok untuk anak-anak dan orang dewasa.

Menurut laporan BNPB yang dikutip medcom.id, bagian hulu tanggul yang rusak ditargetkan selesai ditangani dalam satu pekan. Pemantauan cuaca dan debit sungai tetap dilakukan karena kondisi tanggul serta tingginya aliran air masih menjadi perhatian.

Baca Juga