Tanggal Pembelian DNA Salmon Mengusik Sidang Richard Lee, Bukti Dipersoalkan

Rangkaian tanggal pembelian DNA Salmon menjadi salah satu isu yang dipersoalkan dalam sidang perkara dr Richard Lee di Pengadilan Negeri Tangerang. Kuasa hukum Richard, Faizal Hafied, menilai waktu pembelian produk dan video unboxing tidak selaras dengan tanggal peristiwa pidana yang tercantum dalam perkara.

Faizal menyebut produk DNA Salmon yang disita pertama kali dibeli pada 23 Oktober 2024. Sementara itu, produk pembanding yang dikaitkan dengan video unboxing disebut dibeli sehari kemudian, pada 24 Oktober 2024.

Berdasarkan nota pembelian yang dipaparkan di ruang sidang, kegiatan unboxing disebut berlangsung pada 26 Oktober 2024. Faizal mempertanyakan kaitan rangkaian tersebut dengan tanggal peristiwa pidana 12 Oktober.

TahapTanggalKeterangan di Sidang
Pembelian produk sitaan23 Oktober 2024DNA Salmon pertama
Pembelian pembanding24 Oktober 2024Dihubungkan dengan video
Unboxing di Hotel Pullman26 Oktober 2024Merujuk nota yang dipaparkan

White Tomato dan Kondisi Barang Sitaan

Pemeriksaan barang bukti juga menyentuh produk White Tomato. Faizal mempertanyakan keterangan Dokter Samira Faharnaz atau Doktif terkait produk yang disebut dibeli, digunakan dalam konten, lalu menjadi barang sitaan.

Dalam persidangan, Faizal memutar video percakapan Doktif dengan Denny Sumargo. Tayangan itu memperlihatkan proses membuka produk dan memeriksa kemasannya.

Video tersebut dibandingkan dengan keterangan yang tercantum dalam BAP. Faizal mempertanyakan bagaimana produk yang disebut hanya satu buah masih berada dalam keadaan lengkap apabila sebelumnya sudah dibuka dalam sejumlah konten.

Ia turut menyoroti ketiadaan nomor batch pada salah satu produk White Tomato sitaan. Doktif menjelaskan bahwa tidak seluruh produk di tangannya diperoleh dari pembelian pribadi.

Menurut Doktif, banyak pasien di kliniknya menyerahkan produk tersebut saat pembahasan mengenai White Tomato ramai diperbincangkan. Keterangan ini menjadi bagian dari perdebatan mengenai asal dan kondisi barang bukti.

Pertemuan yang Diperdebatkan

Sidang pada Kamis (13/8/2026) juga memunculkan tudingan Richard Lee bahwa Doktif meminta Rp200 miliar untuk menghentikan perkara. Richard mengatakan permintaan itu disampaikan kepada rekannya, Ivan, dalam pertemuan yang disebut terjadi pada 16 Januari 2026.

Menurut Richard, pertemuan berlangsung di sebuah rumah dengan ketentuan Ivan tidak membawa atau memegang telepon seluler. Ia menyebut Ivan kemudian diminta uang Rp200 miliar agar kasus yang menjeratnya dibubarkan.

Richard mengingatkan bahwa saksi memberikan keterangan di bawah sumpah ketika menanyakan hal tersebut kepada Doktif. Ia juga menyatakan memiliki foto yang terkait dengan pertemuan dimaksud.

Doktif membantah pernah mengajak Ivan bertemu secara langsung. “Itu bohong Yang Mulia, saya tidak pernah mengajak Ivan bertemu,” ujar Doktif dalam persidangan sebagaimana dilaporkan Suara.

Makna Berbeda di Balik Nominal Ratusan Miliar

Usai sidang, Doktif menegaskan tidak berniat melakukan perdamaian dalam perkara tersebut. Ia menjelaskan bahwa angka ratusan miliar yang dibicarakan bukan permintaan uang untuk dirinya.

Doktif menyebut pembahasan itu berkaitan dengan kemungkinan pengembalian hak masyarakat apabila perdamaian dilakukan. Menurutnya, perhitungan yang didengar mengarah pada sekitar Rp250 miliar dari penjualan produk.

“Kalau memang misalnya mau damai, ya kembalikan aja itu hak masyarakat,” kata Doktif. Perbedaan penjelasan antara Richard Lee dan Doktif, termasuk soal barang bukti, masih menjadi bagian dari pembuktian perkara dugaan pelanggaran Undang-Undang Kesehatan dan Perlindungan Konsumen.

Baca Juga