SUV Listrik dan Van Berbaterai Besar Menambah Beban Jalan, China Siapkan Opsi Baru

Maraknya SUV listrik dan van berukuran besar membuat persoalan bobot kendaraan semakin mendapat perhatian di China. Baterai berkapasitas besar yang digunakan pada model-model tersebut dapat menambah tekanan terhadap permukaan jalan.

Tekanan itu berpotensi meningkatkan kebutuhan perawatan infrastruktur ketika jumlah kendaraan berat terus bertambah. Pada saat yang sama, dana dari pajak bahan bakar menghadapi risiko penurunan akibat peralihan menuju transportasi listrik.

Kendaraan Besar Membawa Beban Tambahan

Mobil listrik dengan ukuran setara disebut dapat memiliki bobot lebih tinggi daripada kendaraan bermesin bensin. Perbedaan berat terutama berasal dari paket baterai yang menopang penggerak kendaraan.

Menurut laporan yang dikutip Liputan6 dari Carscoops, bobot tambahan itu dinilai dapat memberi tekanan lebih besar pada jalan. Konsekuensinya, kebutuhan pemeliharaan serta perbaikan dapat meningkat pada jaringan yang dilalui kendaraan berat.

SUV listrik dan kendaraan berbentuk van menjadi segmen yang disorot dalam persoalan ini. Ukuran kendaraan yang besar, ditambah baterai berkapasitas tinggi, dapat membuat bobotnya semakin meningkat.

Pasar China terus mengalami pertumbuhan kendaraan elektrifikasi. Perkembangan itu mencakup mobil listrik murni dan plug-in hybrid, dengan pilihan kendaraan besar yang juga semakin banyak ditawarkan produsen.

Dana Perawatan Jalan Ikut Terancam

China selama ini memperoleh sebagian dana kebutuhan jalan dari pajak atas konsumsi bensin dan diesel. Akan tetapi, peningkatan penggunaan kendaraan listrik mengurangi konsumsi BBM yang menjadi dasar penerimaan tersebut.

Situasi ini menciptakan persoalan yang saling bertolak belakang bagi anggaran jalan. Biaya pemeliharaan berpotensi naik, sedangkan salah satu sumber pendapatan justru tidak lagi dapat diandalkan seperti sebelumnya.

Pemerintah setempat mulai mempertimbangkan langkah agar pengguna kendaraan listrik turut membiayai perawatan infrastruktur. Salah satu pilihan yang dibahas adalah pungutan berdasarkan jarak tempuh.

Pembayaran Berdasarkan Pemakaian Jalan

Skema pungutan jarak tempuh akan mengenakan biaya kepada pemilik mobil listrik berdasarkan jumlah kilometer perjalanan. Cara ini dipandang dapat menciptakan hubungan antara kontribusi pengguna dan pemakaian jalan.

Pendapatan dari skema tersebut dapat menjadi alternatif di tengah terus menyusutnya pemasukan dari bensin dan diesel. Namun, rencana itu belum dinyatakan sebagai kebijakan yang sudah berlaku.

Pembahasannya memperlihatkan upaya China menyesuaikan sistem pendanaan dengan perubahan cepat di pasar kendaraan. Transisi ke tenaga listrik tidak hanya mengubah jenis kendaraan, tetapi juga basis pembiayaan infrastruktur yang digunakan masyarakat.

Isu tersebut bukan hanya tentang risiko jalan lebih cepat membutuhkan perbaikan. Tantangan yang lebih luas adalah menjaga elektrifikasi transportasi tetap berjalan tanpa mengabaikan ketersediaan dana untuk mempertahankan kualitas jaringan jalan.

Jika pungutan berdasarkan jarak tempuh benar-benar diterapkan, pengguna mobil listrik di China akan membayar penggunaan jalan dengan mekanisme berbeda dari sebelumnya. Kebijakan itu dapat menjadi bagian dari perubahan saat kendaraan berbahan bakar minyak semakin jarang digunakan.

Baca Juga