Surplus Beras 4,2 Juta Ton Jadi Dasar Ambisi Pangan dan Energi Indonesia

Surplus beras hingga 4,2 juta ton pada 2025 disebut menjadi fondasi Indonesia untuk memperkuat kemandirian yang lebih luas. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menempatkan ketahanan pangan dan energi sebagai dua agenda yang saling berkaitan.

Setelah penggunaan solar, pemerintah disebut akan bergerak menuju penerapan bensin E10 secara bertahap. Program itu membutuhkan etanol yang dapat dibuat dari singkong, jagung, atau tebu.

Komoditas pertanian tersebut tidak hanya dipandang sebagai sumber pangan. Zulhas menyebut bahan baku itu juga dapat menopang pengembangan biofuel dalam agenda kedaulatan energi.

“Sekarang kita bergerak ke energi. Solar sudah, habis ini bensin kita akan buat E10 dulu secara bertahap,” kata Zulhas. Pernyataan itu disampaikan dalam Kongres Umat Islam Indonesia VIII di Jakarta pada Sabtu (25/7).

Perubahan Tajam pada Neraca Beras

Di sektor pangan, Zulhas menyebut Indonesia telah menghentikan ketergantungan impor beras pada 2025. Klaim tersebut kontras dengan kondisi setahun sebelumnya ketika impor beras mencapai 4,5 juta ton.

TahunStatus Pasokan BerasJumlah
2024Impor4,5 juta ton
2025SurplusHingga 4,2 juta ton

Peralihan dari impor menuju surplus itu dikaitkan dengan percepatan produksi domestik. Pemerintah ingin menjadikan capaian tersebut sebagai bagian dari penguatan kedaulatan pangan nasional.

Zulhas menyebut fokus itu tidak terbatas pada beras. Jagung, gula konsumsi, telur, daging ayam, dan perikanan juga disebut telah memiliki pasokan mandiri.

Tekanan Global Mengubah Cara Pandang

Menurut Zulhas, banyak negara kini cenderung menutup ekspor untuk menjamin kebutuhan pangan di dalam negeri. Tren proteksionisme itu membuat Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme pasar bebas dalam memperoleh pangan strategis.

Ia menilai dinamika geopolitik dapat mengubah akses pasokan dari luar negeri sewaktu-waktu. Karena itu, kekuatan produksi nasional menjadi unsur utama dalam menjaga kebutuhan masyarakat.

“Tidak ada negara lain yang mau menolong Indonesia. Dalam situasi dunia seperti ini, yang bisa membantu kita, yang bisa menolong kita, ya diri kita sendiri,” ujarnya. Zulhas memandang kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri sebagai langkah penting agar Indonesia dapat berdiri di atas kaki sendiri.

Peran Petani dalam Target Swasembada

Zulhas mengaitkan peningkatan produksi dengan perbaikan harga jual gabah serta kemudahan akses pupuk bagi petani. Kebijakan itu dinilai penting karena petani berada pada titik awal penyediaan pangan nasional.

Ia mengkritik kebijakan masa lalu yang dinilainya terlalu mengutamakan impor. Menurutnya, situasi tersebut pernah mengurangi nilai ekonomi bagi petani hingga sebagian di antaranya melepas lahan dan menjadi buruh tani.

Dalam pandangan Zulhas, swasembada tidak hanya menyangkut jumlah cadangan pangan atau aktivitas perdagangan. Ia menyebutnya sebagai kehormatan bagi petani, keluarga, serta bangsa.

“Oleh karena itu, kita harus swasembada. Swasembada itu kehormatan petani, kehormatan keluarga dan saudara kita,” kata Zulhas. Ia juga mengajak umat Islam memikirkan persoalan yang dihadapi petani dan nelayan agar kebijakan penguatan pasokan menjangkau akar rumput.

Baca Juga