Setelah Piala Dunia Usai, Protes Antihemat Anggaran Kembali Guncang Argentina

Berakhirnya Piala Dunia mengembalikan perhatian publik Argentina pada persoalan yang sempat tertutup euforia sepak bola, yakni tekanan akibat kebijakan penghematan anggaran. Ribuan warga kembali turun ke jalan di Buenos Aires pada Rabu, 22 Juli 2026, untuk menuntut perubahan arah kebijakan pemerintah.

Mobilisasi itu menegaskan bahwa ketidakpuasan sosial belum surut meskipun pemerintah mencatat perbaikan indikator ekonomi. Biaya hidup, rendahnya daya beli, dan kondisi pensiunan menjadi alasan utama warga kembali melakukan aksi.

Aksi Kembali Menguat di Buenos Aires

Konfederasi serikat buruh terbesar Argentina, CGT, mendukung aksi tersebut bersama partai-partai sayap kiri serta para simpatisannya. Menurut detikcom yang mengutip AFP, massa sempat mengganggu akses menuju ibu kota pada Rabu pagi.

Ketegangan meningkat ketika bentrokan antara demonstran dan aparat kepolisian dilaporkan terjadi di Avellaneda, kawasan pinggiran Buenos Aires. Peristiwa itu memperlihatkan besarnya penolakan terhadap dampak sosial dari penghematan anggaran.

Sekretaris Jaminan Sosial CGT, Hugo Benitez, mengatakan serikat buruh akan meningkatkan intensitas aksi pada masa mendatang. Menurutnya, Argentina sedang menghadapi “situasi kritis bagi seluruh pekerja.”

Keluhan Lama Pensiunan Muncul Lagi

Sebelum turnamen sepak bola berlangsung, kelompok pensiunan rutin berdemonstrasi di depan gedung Kongres setiap pekan. Mereka meminta kenaikan pembayaran pensiun dan layanan kesehatan yang lebih baik, sementara sejumlah aksi sebelumnya kerap dibubarkan polisi.

Setelah Argentina menjadi runner-up Piala Dunia, isu kesejahteraan lansia kembali menempati pusat Protes Antihemat Anggaran. Hampir separuh dari 7,8 juta pensiunan di negara itu menerima pensiun minimum.

IndikatorAngkaKonteks
Jumlah pensiunan7,8 juta orangHampir separuh menerima pensiun minimum
Pensiun minimum dengan bonusSekitar US$ 330 per bulanKurang dari sepertiga kebutuhan dasar lansia
InflasiHampir 200% menjadi 33%Terjadi dalam dua setengah tahun pemerintahan Milei

Besaran pensiun minimum dengan bonus sekitar US$ 330 per bulan disebut tidak sampai sepertiga kebutuhan dasar lansia. Kondisi itu menjadikan tuntutan pensiunan melampaui soal nominal bulanan dan mencakup perlindungan sosial yang lebih memadai.

Raul Maldonado, demonstran berusia 69 tahun, mengatakan ketimpangan masih sangat dirasakan warga. “Dua puluh persen orang menjadi jutawan, sedangkan 80 persen dari kita yang berada di bawah tetap sama, bertahan dengan gaji yang rendah,” ujarnya kepada AFP.

Pemerintah Menekankan Pemulihan Jangka Panjang

Pemerintah Javier Milei mengandalkan austerity untuk menekan inflasi yang sebelumnya hampir mencapai 200 persen menjadi 33 persen. Pemerintah juga mencatat surplus fiskal dan perbaikan peringkat kredit negara di tengah pelaksanaan reformasi ekonomi.

Wakil Menteri Ekonomi Jose Luis Daza menyatakan pemerintah sedang membangun kondisi agar lapangan kerja membaik, upah naik, dan pendapatan penduduk meningkat. Bagi pemerintah, penyesuaian ekonomi dipandang sebagai fondasi bagi pemulihan yang lebih luas.

Para pengkritik menilai capaian tersebut belum tercermin dalam kehidupan banyak keluarga. Horacio Jerez dari kalangan serikat buruh menegaskan kepada AFP bahwa kondisi makroekonomi tidak sama dengan realitas sosial sehari-hari rakyat Argentina.

Perbedaan pandangan itu membuat perdebatan di Argentina terus berlanjut setelah Piala Dunia usai. Pertaruhan utamanya adalah apakah hasil reformasi dapat segera dirasakan pekerja, pensiunan, dan rumah tangga berpendapatan rendah.

Baca Juga