Selat Hormuz berpotensi dikelola dengan pendekatan baru yang tidak menempatkan Iran sebagai pengendali tunggal. Oman mengajukan model kerja sama regional untuk menangani kebutuhan operasional dan keamanan di jalur perairan tersebut.
Proposal itu mengadopsi gagasan kontribusi sukarela dari pengguna jalur laut. Dukungan regional terhadap usulan Oman telah muncul, menurut sumber dari negara-negara Teluk yang dikutip Reuters.
Rancangan ini datang ketika perhatian terhadap stabilitas Selat Hormuz meningkat. Jalur tersebut juga menjadi bagian dari pembicaraan diplomatik antara Iran, Oman, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.
Kerangka Bersama, Bukan Kendali Eksklusif
Oman mengusulkan agar negara-negara kawasan terlibat dalam satu mekanisme pengelolaan bersama. Iran tetap tercakup dalam pembahasan, tetapi tidak ditempatkan sebagai pihak dengan kendali eksklusif.
Pola yang diajukan Oman merujuk pada tata kelola Selat Malaka. Dalam model tersebut, para pengguna jalur pelayaran dapat memberikan dana sukarela untuk mendukung kebutuhan bersama.
| Aspek | Usulan untuk Selat Hormuz | Dasar Model |
|---|---|---|
| Peran negara | Kerja sama regional | Melibatkan negara-negara kawasan |
| Posisi Iran | Tidak menjadi pengendali tunggal | Terlibat dalam pembahasan |
| Penggunaan dana | Navigasi, lingkungan, pencarian dan penyelamatan | Inspirasi Selat Malaka |
Kontribusi sukarela itu ditujukan untuk navigasi, perlindungan lingkungan, serta operasi pencarian dan penyelamatan. Skema tersebut menawarkan cara pembiayaan yang tidak hanya bergantung pada satu negara.
Harapan setelah Serangan Ditangguhkan
Pembahasan mengenai jalur laut ini berlangsung setelah AS tiba-tiba menangguhkan kampanye serangan udara terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Perkembangan itu memunculkan harapan atas solusi diplomatik yang memungkinkan pengiriman barang kembali melalui Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin, 26 Juli 2026, bahwa Washington sedang melakukan pembicaraan dengan Iran. Ia menilai peluang kesepakatan tetap ada, tetapi menyatakan serangan AS akan berlanjut jika perundingan tidak menghasilkan hasil.
“Saya memiliki banyak kesabaran. Kita lihat saja apa yang akan terjadi,” kata Trump saat berbicara di Michigan. Trump kemudian menambahkan, “Saya pikir ada peluang bagus bahwa sesuatu bisa terjadi.”
Namun, Teheran membantah adanya negosiasi untuk mengakhiri konflik dengan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyebut mediator dapat menyampaikan pesan dari pihak AS mengenai situasi terbaru di kawasan.
“Namun saat ini, kami tidak terlibat dalam negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat,” ujar Baqaei. Pernyataan itu bertentangan dengan klaim Trump mengenai pembicaraan antara kedua pihak.
Diplomasi Kawasan Tetap Berjalan
Di tingkat kawasan, Abbas Araqchi telah membahas Selat Hormuz dengan menteri luar negeri Oman dan Arab Saudi pada Selasa. Ketiga pihak menekankan perlunya memperkuat kerja sama untuk mendukung stabilitas regional.
Mereka juga mendorong upaya diplomatik bersama untuk menghilangkan ancaman keamanan di Selat Hormuz. Dalam kondisi pernyataan Washington dan Teheran yang masih berbeda, model Oman menjadi salah satu gagasan untuk menjaga pengelolaan jalur laut tetap berbasis kepentingan bersama.






