Keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz menjadi salah satu alasan Inggris dan Amerika Serikat mempertahankan kerja sama fasilitas militer di tengah perang dengan Iran. London dan Washington menyebut operasi yang didukung akses tersebut sebagai langkah defensif terhadap ancaman rudal Iran.
Namun, keputusan itu datang saat kekhawatiran terhadap perluasan konflik meningkat. Sejumlah pejabat Inggris mencermati kemungkinan dampak hukum apabila serangan AS terhadap Iran berkembang lebih luas.
Kecemasan itu bertambah setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa infrastruktur sipil Iran dapat menjadi sasaran. Kondisi tersebut membuat izin penggunaan fasilitas Inggris tidak hanya dipandang sebagai isu pertahanan, tetapi juga persoalan politik dalam negeri.
Akses untuk Operasi AS Tetap Dibuka
Perdana Menteri Andy Burnham menyetujui kelanjutan akses militer AS ke sejumlah fasilitas pertahanan Inggris. Persetujuan itu diberikan setelah ia resmi dilantik pada Senin, 20 Juli 2026.
Akses tersebut memungkinkan pesawat militer AS beroperasi dari fasilitas milik Inggris untuk mendukung operasi yang berkaitan dengan Iran. Kebijakan ini menandakan pergantian pemimpin di London tidak mengubah arah kerja sama pertahanan dengan Washington.
Bloomberg melaporkan bahwa keputusan mempertahankan akses sebenarnya telah dibahas sebelum Burnham menjabat. Ia menerima pengarahan mengenai pembicaraan itu sebelum memberikan persetujuan atas kelanjutan kebijakan.
| Fasilitas | Lokasi | Status dalam laporan |
|---|---|---|
| Diego Garcia | Samudra Hindia | Dapat diakses untuk operasi AS |
| RAF Fairford | Gloucestershire | Disebut sebagai fasilitas Inggris terkait |
Warisan Keputusan Pemerintahan Sebelumnya
Sebelum pergantian kepemimpinan, Keir Starmer memimpin rapat bersama para menteri senior dan pejabat pada Jumat, 17 Juli 2026. Saat itu, Starmer masih menjabat perdana menteri dan pemerintah meninjau posisi Inggris setelah operasi AS terhadap Iran berlanjut sejak awal bulan.
Hasil rapat tersebut kemudian menjadi dasar pengarahan bagi Burnham. Dengan menyetujui kebijakan yang sama, Andy Burnham mempertahankan jalur dukungan fasilitas yang telah disiapkan pemerintahan sebelumnya.
Dua fasilitas yang disebut dalam laporan adalah Diego Garcia di Samudra Hindia dan RAF Fairford di Gloucestershire. Keduanya memperlihatkan cakupan lokasi yang dapat digunakan AS untuk mendukung operasi terkait Iran.
Tekanan dari Oposisi dan Kelompok Kiri
Kelanjutan akses ini diperkirakan memicu kritik dari partai oposisi dan kelompok kiri di Inggris. Mereka menilai penggunaan pangkalan Inggris oleh AS dapat membawa negara itu semakin jauh ke dalam aksi militer Washington.
Pemerintah Inggris dan AS tetap menekankan tujuan defensif dalam operasi tersebut. Selain ancaman rudal, perlindungan aktivitas niaga di Selat Hormuz disebut sebagai kepentingan yang perlu dijaga selama konflik berlangsung.
Selat Hormuz memiliki posisi penting dalam pembahasan karena jalur itu digunakan pelayaran komersial. Ketegangan perang membuat keamanan lalu lintas laut menjadi salah satu dasar yang dikemukakan untuk mempertahankan akses fasilitas militer.
Meski demikian, kemungkinan serangan terhadap infrastruktur sipil Iran menimbulkan pertanyaan baru atas batas keterlibatan Inggris. Isu ini berpotensi menjadi ujian bagi pemerintahan Burnham dalam menjaga kerja sama dengan AS sekaligus menjawab kritik domestik.
Hingga laporan Bloomberg diterbitkan, pemerintah Inggris dan AS belum memberikan tanggapan resmi mengenai informasi tersebut. Akses fasilitas Inggris kini tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan perang AS-Iran yang disertai ketegangan militer, hukum, dan politik.






