Samsung dan Nokia pernah menjadi dua nama besar dalam industri ponsel dunia, tetapi keduanya tidak lahir dari bisnis teknologi. Samsung memulai usaha sebagai penjual mi kering, sementara Nokia pernah memasarkan produk kertas, termasuk tisu toilet.
Perubahan arah bisnis itu berlangsung selama puluhan tahun sebelum kedua perusahaan dikenal melalui perangkat komunikasi. Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa merek global dapat tumbuh dari sektor yang jauh berbeda dengan identitasnya saat ini.
Dua ponsel yang menandai perubahan
Samsung meluncurkan SH-100 pada 1988 sebagai ponsel komersial pertamanya. Perangkat tersebut juga dikenal sebagai ponsel pertama yang dibuat di Korea.
Kehadiran SH-100 menjadi tonggak penting bagi Samsung yang sebelumnya membangun kekuatan melalui industri elektronik rumah tangga. Menurut tekno.kompas.com, bentuk ponsel itu kini menjadi bagian dari koleksi Samsung Innovation Museum.
Samsung kemudian menghasilkan setidaknya 2.300 model ponsel sejak 1988. Sebagian koleksi perangkat tersebut dipajang di Smart Gallery di pabrik Samsung di Gumi, Korea Selatan.
Perusahaan ini juga pernah menjual ponsel edisi terbatas bertema The Matrix Reloaded di Amerika Serikat pada 2003. Model tersebut dipasarkan sebanyak 5.000 unit.
Di sisi lain, Nokia membangun pengaruh global melalui ponsel berukuran ringkas pada 1990-an. Salah satu perangkat paling ikoniknya adalah Nokia 3310 yang berbobot 133 gram.
Nokia 3310 disebut sebagai salah satu ponsel paling ringan pada masanya dan mencatat penjualan lebih dari 126 juta unit sejak pertama kali diluncurkan. Setelah itu, Nokia merilis ponsel fitur lain seperti 3330 dan 3350 pada 2001.
| Perusahaan | Tahun Berdiri | Produk Awal | Langkah ke Ponsel |
|---|---|---|---|
| Samsung | 1938 | Mi kering, ikan, dan sayuran kering | Meluncurkan Samsung SH-100 pada 1988 |
| Nokia | 1865 | Produk pulp dan kertas, termasuk tisu toilet | Fokus membuat ponsel ringkas pada 1990-an |
Samsung Berawal dari Toko Grosir
Samsung didirikan Lee Byung-Chull di Daegu, Korea Selatan, pada 1 Maret 1938. Nama Samsung berarti “tiga bintang” dalam bahasa Korea.
Pada tahap awal, kegiatan usahanya berbentuk toko grosir yang menjual mi kering, ikan kering, dan sayur-mayur kering. Bisnis ini berkembang hingga Seoul pada 1947, sebelum Perang Korea pecah pada 1950.
Setelah perang berakhir pada 1953, Samsung ikut mengambil peran dalam pembangunan dan industrialisasi Korea Selatan. Usahanya berkembang ke bank komersial, tekstil, asuransi, ritel, serta industri kimia.
Langkah menuju teknologi dimulai pada 1969 ketika Samsung membentuk sejumlah divisi, termasuk Samsung Electronics serta Samsung Semiconductor & Telecommunications. Pada masa itu, Samsung bekerja sama dengan Sanyo dari Jepang untuk memproduksi televisi hitam-putih.
Ekspor produk elektronik rumah tangga pada dekade 1970-an memperkuat posisi perusahaan di Korea Selatan. Fondasi inilah yang kemudian mendukung pengembangan ponsel Samsung.
Nokia Pernah Hidup dari Industri Kertas
Nokia berdiri di Finlandia pada 1865 sebagai perusahaan pulp dan kertas. Salah satu produk yang pernah dijualnya ialah tisu toilet dengan merek “Nokia Silk”.
Foto kemasan tisu berwarna cokelat tersebut pernah dibagikan oleh Jon Erlichman melalui akun X miliknya. Jejak itu menunjukkan bahwa Nokia pernah mengandalkan bisnis kertas sebelum masuk ke sektor elektronik.
Nokia memasuki industri elektronik pada 1960 dan menjalankan beragam lini usaha. Portofolionya mencakup produk karet, ban kendaraan, sepatu bot, kabel komunikasi, plastik, aluminium, bahan kimia, komputer, peralatan pembangkit listrik, robotika, kapasitor, hingga perlengkapan militer.
Kejayaan Nokia di bisnis ponsel kemudian meredup, dengan sejumlah riset menyoroti budaya kerja yang mencekam dan kegagalan berinovasi. Divisi perangkat kerasnya diakuisisi Microsoft pada 2014 senilai 7,2 miliar dollar AS, sebelum lisensi merek Nokia dibeli HMD Global pada 2016.
Di bawah HMD Global, nama Nokia masih dipakai untuk feature phone serta ponsel 5G. Perjalanan kedua perusahaan ini menunjukkan bahwa dominasi di pasar ponsel dibangun melalui perubahan bisnis yang panjang.






