Ritual yang dilakukan berulang dapat mengganggu keseharian anak ketika dipakai untuk melawan rasa takut yang tidak kunjung reda. Anak mungkin memeriksa pintu berkali-kali, mengulang kata atau angka, hingga mengikuti urutan tertentu dengan sangat kaku.
Tindakan itu dapat menjadi bagian dari perilaku kompulsif. Anak melakukannya untuk mencoba memperoleh ketenangan, bukan hanya karena menyukai keteraturan atau rutinitas.
OCD merupakan gangguan yang berkaitan dengan dua pola yang saling berhubungan, yakni obsesi dan kompulsi. Obsesi berupa pikiran mengganggu yang sulit dikendalikan, sedangkan kompulsi adalah tindakan berulang untuk mengurangi kecemasan akibat pikiran tersebut.
Pada anak, pola ini dapat lebih mudah dikenali karena muncul dalam aktivitas sehari-hari. Frekuensi ritual dan dampaknya terhadap kegiatan harian menjadi bagian penting dalam memahami perubahan perilaku yang terjadi.
Ritual yang Dapat Tampak dalam Keseharian
Perilaku kompulsif tidak selalu berbentuk mencuci tangan. Anak dapat memeriksa apakah pintu sudah terkunci, mengelompokkan barang, atau meletakkan benda dalam urutan yang dianggap harus tepat.
Ada pula anak yang memakai pakaian dengan urutan sama setiap kali atau menimbun benda tertentu. Pengulangan dapat muncul dalam bentuk kata, suara, angka, musik, maupun perkataan dari diri sendiri dan orang lain.
| Kebutuhan yang Muncul | Contoh Tindakan Berulang |
|---|---|
| Meredakan rasa takut dan cemas | Mencuci tangan berulang, memeriksa pintu, atau terus khawatir akan sakit |
| Mencari kepastian dan keteraturan | Mengulang pertanyaan, menyusun benda, mengelompokkan barang, atau mengulang kata |
1. Anak Terus Merasa Tidak Aman
Salah satu gejala OCD pada anak ialah rasa tidak aman yang bertahan meski tidak ada bahaya nyata. Anak dapat takut berlebihan terhadap kuman dan kemudian mencuci tangan berulang kali, bahkan hingga 100 kali atau lebih dalam sehari.
Kekhawatiran lain dapat berupa rasa takut terus-menerus akan sakit. Anak juga bisa sulit berpisah dari orang tua dan menolak menginap di rumah sepupu karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada keluarganya.
Menurut CNBC Indonesia, anak dapat berulang kali bertanya apakah dirinya akan baik-baik saja. Pertanyaan itu dapat berkaitan dengan bayangan mengenai kemungkinan buruk yang menimpa anggota keluarga.
2. Anak Khawatir Telah Menyakiti Orang Lain
Tanda berikutnya adalah kekhawatiran bahwa anak sudah menyakiti orang lain. Perasaan tersebut dapat mendorong anak untuk terus meminta penegasan dari orang-orang di sekitarnya.
Misalnya, anak berulang kali menanyakan, “Kamu masih sayang aku, kan?” Pertanyaan ini dapat muncul sebagai usaha untuk mengurangi kecemasan, bukan sekadar bentuk perhatian biasa.
Rasa takut yang terus datang dapat membuat ritual menjadi semakin sering dan kuat. Perhatian terhadap kecemasan berulang, kebutuhan akan kepastian, serta tindakan yang mengganggu rutinitas dapat membantu mengenali pola OCD pada anak.






