Indonesia menyiapkan perluasan jaringan rel kereta api dari sekitar 7.000 kilometer menjadi 14.000 kilometer. Sasaran itu akan ditempuh melalui pembangunan lintasan baru sekaligus reaktivasi jalur yang selama ini pasif.
Penambahan jaringan tersebut direncanakan dalam beberapa puluh tahun ke depan. Presiden Prabowo Subianto meminta pembangunan rel dipercepat di berbagai wilayah Indonesia.
Reaktivasi jalur menjadi salah satu unsur penting karena target jaringan tidak hanya bertumpu pada proyek rel dari nol. Pemerintah memandang langkah itu dapat memperluas peran kereta api dalam mobilitas dan distribusi barang.
Kereta Diposisikan untuk Kebutuhan Logistik
Pemerintah ingin kereta api mengambil sebagian peran angkutan logistik yang selama ini banyak mengandalkan jalan raya. Peralihan muatan ke rel diharapkan mengurangi kepadatan dan beban pada infrastruktur jalan.
Jaringan yang lebih panjang juga diproyeksikan memperkuat hubungan antarwilayah. Hal ini penting karena mayoritas jalur rel yang tersedia saat ini masih berada di Pulau Jawa.
| Indikator | Nilai | Penjelasan |
|---|---|---|
| Jaringan rel tersedia | Sekitar 7.000 km | Mayoritas di Pulau Jawa |
| Jaringan yang dituju | 14.000 km | Melalui pembangunan dan reaktivasi |
| Potensi penurunan emisi | 4,2 juta ton CO2 | Dari pengembangan perkeretaapian |
Rencana Induk untuk Kawasan Luar Jawa
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan pemerintah sedang menyiapkan rencana induk pengembangan jalur di luar Jawa. Rencana itu mencakup Trans Sumatera, Trans Kalimantan, dan Trans Sulawesi.
AHY menyampaikan penjelasan tersebut dalam Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle Summit 2026 di Jakarta pada Kamis, 23 Juli 2026. Menurutnya, target 14.000 kilometer merupakan bagian dari arahan Presiden yang dijalankan dalam jangka beberapa puluh tahun.
“Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, di mana kita harus membangun dan atau melakukan reaktivasi terhadap rel-rel kereta yang sudah ada tapi pasif selama ini hingga 14.000 kilometer dalam sekian puluh tahun ke depan,” ujar AHY.
Belajar dari Jaringan Kereta Jepang
Pemerintah menggunakan Jepang sebagai salah satu pembanding dalam pengembangan perkeretaapian. AHY menilai Jepang memiliki karakteristik negara kepulauan dan kontur yang mirip dengan Indonesia.
Jepang disebut memiliki lebih dari 13.000 pulau serta jaringan kereta yang luas di pulau-pulau utamanya. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi gambaran bagi Indonesia dalam memperluas jangkauan rel ke daerah yang belum tersambung.
“Kalau kita menggunakan benchmark Jepang misalnya, sebagai salah satu negara yang memiliki kontur dan karakteristik mirip dengan Indonesia, sama-sama punya 14.000 atau lebih 13.000 pulau, tapi mereka mengembangkan kereta dengan begitu luas jaringannya sampai dengan bisa digunakan oleh masyarakat di pulau-pulau utama mereka,” kata AHY.
Target Emisi Turun Hingga 4,2 Juta Ton CO2
Pengembangan perkeretaapian juga dikaitkan dengan upaya mengurangi emisi karbon sektor transportasi. AHY memperkirakan pengembangan kereta dapat menekan emisi CO2 hingga 4,2 juta ton.
Pemerintah memproyeksikan rel yang lebih luas dapat memenuhi kebutuhan distribusi barang sekaligus memperkuat konektivitas nasional. Perkembangan rel 14.000 km itu akan mencakup pembangunan baru dan pengaktifan kembali jalur yang tidak beroperasi.






