Kejuaraan Dunia 2026 menjadi peluang baru bagi Jonatan Christie untuk melewati pencapaian perempatfinal. Tantangannya tidak ringan karena ia menilai kekuatan tunggal putra dunia kini semakin merata.
Jonatan akan datang ke New Delhi, India, sebagai unggulan ketiga. Turnamen yang berlangsung pada 17-23 Agustus itu merupakan penampilan keenamnya di Kejuaraan Dunia.
Dalam lima penampilan terdahulu, Jonatan tiga kali mencapai perempatfinal. Dua edisi lainnya berakhir pada babak pertama, sehingga pencapaiannya di ajang tersebut masih belum konsisten.
| Tahun | Hasil |
|---|---|
| 2018 | Babak pertama |
| 2019 | Perempatfinal |
| 2022 | Perempatfinal |
| 2023 | Babak pertama |
| 2025 | Perempatfinal |
Langkah terakhirnya pada Kejuaraan Dunia 2025 terhenti di perempatfinal. Jonatan kalah dari Kunlavut Vitidsarn melalui pertandingan tiga gim.
Catatan itu menempatkan edisi New Delhi sebagai kesempatan untuk memperbaiki hasil terbaiknya. Pengalaman dari turnamen sebelumnya tetap penting, tetapi tidak cukup untuk menjamin perjalanan mulus.
Tidak Ada Lagi Jalur yang Aman
Jonatan melihat pemain di luar daftar unggulan kini dapat mengalahkan siapa pun dan memburu gelar. Situasi tersebut membuat peluang juara tidak hanya terpusat pada nama-nama unggulan.
“Di satu sisi, ini bagus. Karena seharusnya ada lebih banyak kejutan,” ujar Jonatan di Kelapa Gading, Jakarta Utara, seperti dikutip sport.detik.com. Ia menilai perubahan itu membuat persaingan lebih sehat bagi bulutangkis.
Menurut Jonatan, kemampuan pemain tunggal putra kini datang dari lebih banyak negara. Dampaknya, hasil pertandingan makin sulit diperkirakan, baik bagi unggulan maupun pemain nonunggulan.
“Terutama tunggal putra, di mana ada banyak pemain yang tidak hanya unggulan yang juara, yang bukan unggulan pun memiliki kesempatan yang sama,” katanya. Pernyataan itu sekaligus menunjukkan besarnya tuntutan bagi setiap peserta untuk menjaga permainan dari laga pertama.
Perubahan Setelah Era Dominasi
Pada beberapa tahun sebelumnya, sektor tunggal putra sempat memiliki pemain yang sangat dominan di papan atas. Kento Momota dan Viktor Axelsen menjadi contoh pemain yang konsisten meraih gelar dalam rangkaian BWF World Tour.
Gambaran tersebut kini berubah ketika kekuatan para pemain semakin berdekatan. Tidak adanya satu figur yang terlalu dominan membuat perjalanan menuju gelar menjadi lebih terbuka, tetapi juga lebih berisiko.
Babak awal pun dapat menghadirkan pertemuan antarpemain dengan level permainan serupa. Jonatan menilai hal itu menjadi daya tarik sekaligus ujian terbesar dalam kompetisi modern.
“Jadi, menurut saya ini adalah salah satu hal baik untuk bulutangkis. Dan semakin seru lagi karena di babak-babak awal bisa ketemu dengan level yang sama,” ujar Jonatan. Status unggulan ketiga memberi posisi penting dalam undian, namun tidak menghilangkan kemungkinan kejutan.
Dengan rekam jejak tiga perempatfinal dan pengalaman lima edisi, Jonatan membawa modal yang cukup menuju New Delhi. Persaingan tunggal putra yang sulit ditebak akan menguji kesiapan pemain Indonesia itu dalam setiap pertandingan.






