Profesi teknis semakin dibutuhkan ketika pembangunan infrastruktur AI berlangsung dalam skala besar. Permintaan ini mencakup bidang kelistrikan, konstruksi, mekanik, pengelasan, perpipaan, hingga pemeliharaan fasilitas.
Perubahan tersebut memberi alasan baru bagi Gen Z untuk mempertimbangkan jalur vokasi. Pekerjaan teknis saat ini tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik, tetapi juga pengoperasian teknologi, robotika, dan pemecahan masalah di lapangan.
Upah Tinggi Mengikuti Kebutuhan Keahlian
Nilai ekonomi beberapa keterampilan teknis terlihat dari angka penghasilan yang muncul di proyek industri dan pusat data. Pekerja dengan kompetensi yang sesuai dapat memperoleh premi dibandingkan pekerjaan sejenis di proyek konvensional.
| Pekerjaan | Potensi Penghasilan | Keterangan |
|---|---|---|
| Pekerja pabrik baja | US$41-US$52 per jam | Memiliki keahlian pengelasan |
| Teknisi listrik | US$240.000-US$280.000 per tahun | Bekerja di pusat data AI |
| Pekerja konstruksi | Premi upah sekitar 32% | Proyek pusat data di AS |
Instruktur pengelasan Quincy Millerjohn menyebut pekerja di pabrik baja dapat menghasilkan US$41 hingga US$52 per jam. Sementara itu, pekerja konstruksi proyek pusat data di Amerika Serikat disebut menerima tambahan pendapatan sekitar US$81.800 per tahun.
Angka premi konstruksi tersebut berasal dari laporan yang dikutip CNBC Indonesia. Perbandingan itu menunjukkan bahwa proyek pusat data AI dapat memberi kompensasi lebih tinggi daripada proyek konstruksi tradisional.
Mike Rowe juga mengungkap pengalaman bertemu teknisi listrik Gen Z di pusat data AI di Plano, Texas. Teknisi yang berusia di bawah 30 tahun itu disebut berpenghasilan US$240.000 hingga US$280.000 per tahun serta memiliki peluang lembur dan tawaran dari perusahaan lain.
Pusat Data Mendorong Rantai Kebutuhan Baru
Pusat data membutuhkan ribuan GPU untuk menjalankan model dan layanan AI. Pengoperasian perangkat komputasi dalam jumlah besar membuat ketersediaan listrik, pendinginan, konstruksi, dan perawatan menjadi kebutuhan utama.
Karena itu, ekspansi fasilitas digital tidak hanya menciptakan permintaan bagi pekerjaan berbasis komputer. Pekerja konstruksi, teknisi listrik, mekanik, tukang ledeng, dan teknisi umum juga memegang peran dalam rantai pembangunan infrastruktur tersebut.
Kombinasi kebutuhan fisik dan penguasaan teknologi membuat sejumlah keahlian lapangan lebih sulit sepenuhnya digantikan algoritma. Kondisi ini membedakan profesi teknis dari pekerjaan yang sebagian besar fungsinya dapat didigitalisasi.
Sekolah Vokasi Mengadopsi Pendekatan Modern
Minat terhadap pendidikan keterampilan juga terlihat di sekolah-sekolah Amerika Serikat. Kelas konstruksi, manufaktur, pertukangan, dan pengelasan dikembangkan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kebutuhan industri teknologi.
SMA Middleton, misalnya, menginvestasikan US$90 juta untuk memodernisasi laboratorium manufaktur. Siswa tidak hanya mempelajari alat manual, tetapi juga mengoperasikan lengan robot pintar yang dikendalikan komputer.
Kurikulum konstruksi, manufaktur, dan pertukangan kayu yang pernah populer pada 1990-an hingga 2000-an kembali diperkenalkan. Kelas vokasi modern itu dilaporkan menarik sekitar 2.300 siswa dalam beberapa tahun terakhir.
John Mihm, konsultan pendidikan pemerintah negara bagian Wisconsin, menilai pandangan terhadap pekerjaan tangan sedang berubah. Profesi tersebut kini dipahami sebagai pekerjaan berkeahlian tinggi dengan peluang pendapatan besar.
Tekanan Baru bagi Pekerjaan Rutin
Peralihan minat Gen Z terjadi di tengah kekhawatiran terhadap pekerjaan administratif dan berulang yang mudah diotomatisasi. World Economic Forum memperkirakan sekitar 83 juta pekerjaan berisiko hilang sepanjang 2023-2027 akibat perubahan teknologi dan otomatisasi.
Laporan Future of Jobs juga memperkirakan 23% pekerjaan akan berubah, termasuk sejumlah peran seperti teller bank, kasir, staf entri data, sekretaris, dan pekerja pembukuan. Proyeksi itu tidak berarti semua peran tersebut hilang sekaligus, tetapi menunjukkan arah perubahan permintaan tenaga kerja.
Bagi pekerja muda, profesi teknis menawarkan keterhubungan langsung dengan kebutuhan manufaktur dan konstruksi modern. Ledakan AI pada akhirnya ikut mengubah cara keterampilan praktis dipandang dalam pasar kerja.






