Presiden Prabowo Subianto mengungkap beberapa menteri dan pembantu presiden terpaksa masuk rumah sakit setelah bekerja dengan intensitas tinggi. Pengakuan itu disertai cerita bahwa ada anggota pemerintahannya yang pingsan dan harus menjalani operasi.
Di saat bersamaan, rencana Prabowo untuk menambah waktu istirahat bagi jajaran kabinet mendapat respons bernada seloroh. Para pembantunya disebut menjawab bahwa janji tersebut hanya “janji tinggal janji”.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Ia menggunakan forum tersebut untuk menggambarkan besarnya tekanan kerja yang dirasakan para pembantu presiden sejak awal masa pemerintahan.
Perawatan Rumah Sakit akibat Kelelahan
Prabowo tidak merinci siapa saja menteri atau pembantu presiden yang mengalami masalah kesehatan. Ia juga tidak menyampaikan jenis operasi yang dilakukan maupun durasi perawatan di rumah sakit.
Meski detailnya tidak dijelaskan, presiden menekankan bahwa kelelahan telah dialami oleh banyak orang di lingkungan pemerintahannya. “Ada yang pingsan, ada yang operasi, banyak yang kecapean,” ujar Prabowo.
Ia sebelumnya menilai kerja keras para menteri dan pembantu presiden telah mencapai tingkat yang sangat berat. “Demikian kerasnya menteri-menteri saya dan pembantu-pembantu saya telah bekerja, beberapa di antara mereka terpaksa masuk rumah sakit,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan kondisi kesehatan menjadi salah satu dampak dari tingginya tuntutan pekerjaan di kabinet. Namun, Prabowo tidak menguraikan langkah khusus yang telah dilakukan pemerintah terkait anggota kabinet yang disebut menjalani perawatan.
Rencana Istirahat yang Dipertanyakan
Prabowo mengatakan akan memberikan waktu istirahat lebih banyak kepada para menteri pada sisa masa jabatannya. Ucapan itu disampaikan setelah ia menyoroti beban tugas yang selama ini diemban oleh jajaran pemerintah.
Respons kabinet yang ia ceritakan justru mengandung keraguan atas realisasi rencana tersebut. “Dan mereka menjawab, janji tinggal janji,” tutur Prabowo.
Prabowo lalu mengaitkan candaan itu dengan agenda kerja yang dipandang sangat padat. Menurutnya, para pembantu presiden menilai kalender kerja yang ia jalani seolah tidak menyediakan hari libur.
“Menurut pembantu-pembantu saya, dalam kalender saya tidak ada hari merah,” ucapnya. Kalimat itu menegaskan persepsi mengenai ritme aktivitas pemerintahan yang berlangsung nyaris tanpa jeda.
Kerja Pemerintah sebagai Tanggung Jawab
Walau mengakui kelelahan di lingkungan kabinet, Prabowo menegaskan pemerintah tetap memandang tugas negara sebagai kehormatan. Ia menyebut mandat dari rakyat harus dijalankan dengan kesungguhan oleh seluruh jajaran.
“Yang ingin saya sampaikan, kita menerima amanah itu dengan penuh kehormatan. Tugas dari rakyat adalah kehormatan yang mulia bagi kita,” kata Prabowo.
Prabowo menekankan pemerintah akan terus bekerja maksimal demi rakyat dan bangsa. Komitmen itu ia sampaikan sebagai alasan di balik tingginya semangat kerja para menteri serta pembantu presiden.
“Karena itu, kita akan bekerja sekeras-kerasnya, kita akan habis-habisan bekerja untuk rakyat dan bangsa kita,” ujar Prabowo. Pengakuan mengenai kondisi kesehatan kabinet sekaligus menegaskan pentingnya keseimbangan antara tuntutan pelayanan publik dan waktu pemulihan bagi para pembantu presiden.






