Langit yang lebih cerah pada musim kemarau dapat menyimpan risiko kesehatan yang tidak selalu terlihat. Berkurangnya tutupan awan membuat suhu meningkat, sementara debu, emisi, dan asap kebakaran dapat memperburuk kualitas udara.
Kombinasi panas dan pencemaran itu berpotensi mengganggu saluran pernapasan serta meningkatkan risiko ISPA. Ancaman menjadi lebih luas apabila kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap di tengah udara yang kering.
Tutupan Awan Berkurang, Suhu Meningkat
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG sebelumnya mengingatkan masyarakat mengenai risiko kesehatan selama musim kemarau. Peringatan itu meliputi dampak paparan suhu tinggi dan masalah yang berkaitan dengan memburuknya mutu udara.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa tutupan awan yang lebih sedikit dapat menaikkan suhu udara. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan akibat panas, termasuk sengatan panas.
Suhu yang meningkat juga berkaitan dengan potensi kebakaran hutan dan lahan. Ketika kebakaran terjadi, asap dapat menambah polutan di udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat.
Masalah kesehatan saat kemarau dengan demikian tidak hanya berupa ketidaknyamanan akibat cuaca panas. Kondisi udara, potensi asap, serta kerentanan tubuh menjadi faktor yang perlu diperhatikan secara bersamaan.
Debu dan Emisi Lebih Mudah Masuk ke Pernapasan
Prof Budi Haryanto menyatakan udara kering dapat memperburuk kualitas udara di lingkungan. Debu dan emisi dari beragam sumber menjadi lebih mudah terhirup dan berpotensi mengiritasi saluran pernapasan.
Iritasi tersebut dapat membuka peluang bagi virus maupun bakteri memasuki saluran pernapasan. Kondisi ini berkaitan dengan risiko infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Meski demikian, paparan polusi udara tidak serta-merta menimbulkan infeksi pada setiap orang. Prof Budi menekankan bahwa daya tahan tubuh turut memengaruhi dampak zat pencemar yang masuk ke dalam tubuh.
“Karena itu masuk ke dalam tubuh manusia, tergantung orangnya. Daya tahan tubuhnya lagi bagus atau tidak,” jelas Prof Budi dalam laporan yang dimuat Beritasatu.com.
Ia menyebut kondisi tersebut dapat menyebabkan berbagai infeksi saluran napas, salah satunya ISPA. Paparan polutan juga dapat memperparah gangguan atau iritasi yang telah terjadi sebelumnya pada area pernapasan.
Asap Kebakaran Membawa Risiko Tambahan
Asap karhutla menjadi salah satu sumber pencemaran yang perlu diwaspadai saat kemarau. Prof Budi menyebut asap ini dapat mengandung karbon monoksida, metana, nitrogen oksida, dan sulfur dioksida.
Senyawa tersebut berpotensi memberikan dampak buruk apabila terhirup dalam jumlah tertentu. Dampaknya tidak terbatas pada infeksi maupun gangguan yang hanya terjadi di saluran pernapasan.
“Paparan senyawa tersebut berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan yang lebih luas, tidak hanya berupa infeksi atau gangguan pada saluran pernapasan,” ujar Prof Budi. Pernyataan itu menempatkan asap kebakaran sebagai faktor penting ketika mutu udara menurun.
Debu, emisi, dan asap dapat saling menambah beban pencemaran pada musim kering. Risiko kesehatan juga dipengaruhi oleh lamanya paparan, kondisi saluran pernapasan, serta daya tahan tubuh setiap orang.
Perubahan mutu udara patut diperhatikan ketika polutan mulai meningkat di tengah cuaca panas. Kemarau bukan hanya soal suhu tinggi, melainkan juga kondisi lingkungan yang dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan.






