Dari Pendingin Pembangkit ke Transportasi, PLN Percepat Rantai Hidrogen Hijau Nasional

Hidrogen hijau yang diproduksi PLN kini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pendingin generator pembangkit. Perseroan mulai menyiapkan jalur pemanfaatan yang lebih luas, termasuk melalui pengisian hidrogen, green ammonia, dan kajian mobilitas transportasi.

Langkah tersebut didukung 24 Green Hydrogen Plant yang telah beroperasi di berbagai wilayah Indonesia. Total kapasitas produksinya mencapai 203,6 ton per tahun, dengan sekitar 128 ton per tahun masih tersedia bagi sektor strategis.

Produksi yang Mulai Terhubung ke Pemanfaatan

Sekitar 75 ton per tahun dari produksi hidrogen hijau PLN dipakai untuk pendingin generator pembangkit. Sisa kapasitas menjadi dasar bagi pengembangan pemakaian hidrogen di luar kebutuhan operasional pembangkit.

PLN menyiapkan Hydrogen Refueling Station sebagai infrastruktur pengisian hidrogen. Perseroan juga membangun Hydrogen Center yang disebut sebagai pusat kompetensi hidrogen pertama di Indonesia.

Di sisi industri, PLN menggandeng Pupuk Kujang untuk memproduksi green ammonia. Produk tersebut telah dimanfaatkan untuk co-firing di PLTU Labuan, Banten.

Area PengembanganInisiatifTujuan atau Pemanfaatan
Pembangkit75 ton per tahunPendingin generator
InfrastrukturHydrogen Refueling StationPengisian hidrogen
KompetensiHydrogen CenterPusat kompetensi hidrogen
IndustriGreen ammonia dengan Pupuk KujangCo-firing PLTU Labuan

Untuk transportasi, PLN menjalankan kajian Jakarta Hydrogen Mobility bersama Kementerian ESDM, TransJakarta, dan DAMRI. Perseroan juga melakukan kajian dengan mitra serta Pupuk Indonesia terkait produksi green hydrogen di Jambi dan Gresik.

Pengembangan Berawal pada 2023

Pabrik hidrogen hijau pertama PLN beroperasi sejak 2023 di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Muara Karang, Jakarta. Setelah itu, fasilitas serupa dikembangkan di sejumlah daerah lain hingga jumlahnya mencapai 24 lokasi.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan bahwa perseroan siap memperluas inisiatif tersebut secara menyeluruh. Komitmen itu disampaikan dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition 2026 di Jakarta pada Selasa, 21 Juli 2026.

PLN menargetkan kolaborasi dengan pemerintah, BUMN, industri, akademisi, dan mitra internasional dalam membangun ekosistem hidrogen terintegrasi. Darmawan mengatakan hidrogen dapat berperan sebagai jembatan dalam peralihan dari energi fosil menuju energi masa depan.

“PLN siap all out mengekspansi apa yang sudah kami awali di setiap lini, sehingga ekosistem hidrogen nasional dapat terakselerasi,” kata Darmawan. Pernyataan itu menegaskan bahwa pembangunan fasilitas produksi akan berjalan beriringan dengan penciptaan pasar dan pemanfaatan.

Empat Kebutuhan Utama

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menilai hidrogen strategis bagi transisi energi, kemandirian energi, dan hilirisasi nasional. Bahan bakunya, menurut dia, tersedia dari air, gas, batu bara, dan biomassa.

Pengembangan hidrogen masih menghadapi kebutuhan akan teknologi yang siap digunakan, pasar yang terbentuk, investasi, dan regulasi pendukung. Kementerian ESDM menyatakan terbuka untuk membahas pengaturan yang membuat implementasi lebih efisien.

Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi menyebut terdapat 93 inisiatif ekosistem hidrogen di Indonesia. Seluruh inisiatif itu disebut telah menghasilkan investasi senilai Rp32 triliun.

Ekosistem hidrogen nasional diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan. Kolaborasi lintas sektor diharapkan juga membuka peluang ekonomi baru, lapangan kerja ramah lingkungan, dan peningkatan daya saing Indonesia.

Baca Juga