Pidato Trump di Gedung Putih Menyorot Email FBI dan Dugaan Pengaruh China

Pidato primetime Donald Trump di Gedung Putih kembali membawa isu penanganan intelijen dan pemilu ke pusat perdebatan politik Amerika Serikat. Dalam forum yang dihadiri sekitar 55 orang itu, Trump mengungkap dokumen internal FBI yang menurutnya memperlihatkan percakapan mencurigakan.

Wakil Presiden JD Vance dan sejumlah anggota kabinet hadir di East Room untuk menyaksikan penyampaian pernyataan tersebut. Trump menempatkan dokumen itu sebagai dasar kritik terhadap mekanisme internal FBI.

Email Internal dan Materi Intelijen

Salah satu aspek yang disebut dalam dokumen adalah perbedaan pandangan mengenai Presidential Daily Brief atau PDB. Materi intelijen harian itu merupakan bagian dari pembahasan di tingkat presiden.

Beberapa email internal disebut memperlihatkan perdebatan mengenai isi laporan tertentu. Seorang pejabat dalam komunikasi itu disebut menulis bahwa laporan tersebut sengaja “diolah” agar tidak secara langsung mengaitkannya dengan pemilu.

Trump menggunakan bagian itu untuk mempertanyakan bagaimana informasi tentang dugaan campur tangan asing disampaikan. Kritiknya berfokus pada kemungkinan bahwa informasi penting tidak ditampilkan secara terbuka dalam proses internal FBI.

Laporan terkait China

Dokumen yang disebut dirilis Gedung Putih setelah pidato itu juga memuat informasi tentang laporan intelijen yang kemudian ditarik kembali. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan aktivitas China untuk memengaruhi pemilu Amerika Serikat.

Suara.com melaporkan bahwa China menjadi salah satu pokok perdebatan dalam percakapan internal yang diungkap. Akan tetapi, dokumen tersebut tidak memberikan uraian lebih lanjut mengenai hasil akhir penilaian intelijen atas dugaan aktivitas itu.

Dengan demikian, isi dokumen yang disorot lebih banyak menggambarkan penanganan dan komunikasi internal atas informasi tersebut. Materi itu tidak dipaparkan sebagai temuan baru yang menjelaskan secara terpisah kesimpulan intelijen terkait China.

Nama Pejabat FBI Disebut Trump

Trump juga menyebut Nikki Floris, seorang pejabat FBI, dalam pidatonya. Menurut Trump, dokumen itu memuat tulisan Floris yang menyatakan bahwa dirinya pada dasarnya menjalankan pemerintahan bayangan di FBI.

“Dia menulis bahwa dirinya pada dasarnya menjalankan pemerintahan bayangan di FBI,” ujar Trump, sebagaimana dikutip NY Post. Ucapan tersebut menjadi alasan utama Trump melontarkan tudingan adanya pemerintahan bayangan di dalam lembaga itu.

Trump kemudian menghubungkan isu tersebut dengan Pemilu AS 2020 yang dimenangi Joe Biden. Ia menilai informasi mengenai dugaan pengaruh asing seharusnya disampaikan lebih transparan pada periode itu.

Salah satu komunikasi internal yang dikutip menyatakan informasi tersebut semestinya dapat memperjelas keterlibatan China dalam upaya memengaruhi pemilu. Pernyataan itu merupakan bagian dari dokumen yang digunakan Trump untuk membangun kritiknya terhadap FBI dan penanganan informasi intelijen.

Pengungkapan dokumen di Gedung Putih memperlihatkan bahwa isu intelijen dan pemilu 2020 tetap menempati posisi penting dalam kritik politik Trump. Sorotan kali ini bertumpu pada email internal, laporan yang ditarik kembali, serta tudingan tentang keterbukaan informasi di FBI.

Baca Juga