Pembaruan buku pelajaran untuk siswa SD hingga SMA telah mencapai sekitar 50 persen. Pemerintah menyiapkan perubahan yang tidak terbatas pada isi pelajaran, tetapi juga menyentuh kenyamanan membaca dan ketahanan fisik buku.
Fokus tersebut muncul setelah ditemukan buku dengan tulisan kecil serta bahan yang mudah rusak. Persoalan ini dinilai langsung memengaruhi pengalaman peserta didik ketika menggunakan buku di sekolah.
Materi dan Tampilan Diperbarui Bersamaan
Kemendikdasmen telah menyelesaikan evaluasi terhadap buku yang digunakan saat ini. Sejumlah substansi kemudian diperkuat agar selaras dengan kebijakan nasional dan kebutuhan pembelajaran.
Penguatan materi mencakup literasi, numerasi, sains, pendidikan karakter, serta pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Buku diharapkan tidak hanya menyajikan bahan ajar, melainkan juga mampu memberi konteks yang lebih dekat bagi siswa.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyatakan pembaruan buku cetak telah dibahas sejak lama. Menurutnya, arahan Presiden Prabowo Subianto semakin mempertegas proses evaluasi yang sudah disiapkan.
“Arahan Bapak Presiden justru semakin menegaskan dan memperkuat bahwa buku pelajaran harus terus kita evaluasi agar sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan arah pembangunan sumber daya manusia Indonesia ke depan,” ujar Toni kepada Kompas.com pada Rabu (12/8/2026).
Proses pembaruan mencakup evaluasi, identifikasi bagian yang perlu diperbaiki, penyempurnaan substansi, penelaahan, dan pengendalian mutu. Seluruh tahap itu dijalankan sebelum buku diterapkan di sekolah.
Masalah Cetakan Jadi Perhatian Khusus
Selain isi, pemerintah menelaah ukuran huruf, desain, ilustrasi, keterbacaan, dan kualitas hasil cetak. Penilaian ini diarahkan agar buku pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa pada setiap jenjang usia.
Toni mengatakan kenyamanan membaca menjadi perhatian khusus dalam arahan Presiden. Ukuran tulisan harus membuat siswa dapat membaca dengan nyaman, terutama pada jenjang pendidikan dasar.
Persoalan itu sebelumnya disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui unggahan Instagram resmi @sekretariat.kabinet pada Senin (10/8/2026). Teddy menyebut Presiden memeriksa buku pelajaran satu per satu.
Dalam pemeriksaan tersebut, Presiden menemukan buku dengan bahan yang mudah rusak dan ada pula yang sudah rusak. Ia juga menyoroti tulisan kecil yang membuat anak SD khususnya membaca dari jarak sangat dekat.
“Saat mengecek buku pelajaran, itu beliau lihat satu per satu, kemudian kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga, kemudian tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya bacanya sangat dekat,” kata Teddy.
Bukan Sekadar Cetak Ulang
Kemendikdasmen menegaskan pembaruan ini bukan sekadar mengganti fisik buku lama. Perubahan harus menghasilkan materi yang relevan sekaligus buku yang lebih mudah digunakan siswa dalam proses belajar.
“Ini bukan sekadar mengganti buku, tetapi melakukan penyesuaian dan penguatan substansi agar isi buku benar-benar relevan dengan arah kebijakan pendidikan ke depan,” kata Toni.
Dengan proses yang masih berjalan, kualitas isi dan penyajian akan sama-sama diuji sebelum buku digunakan di sekolah. Pembaruan tersebut menempatkan kebutuhan belajar siswa sebagai pertimbangan dalam pengembangan buku dari SD hingga SMA.






