Saat Ancaman Kekeringan Menguat, Pemerintah Yakin Pasokan Pangan Indonesia Terjaga

Ancaman kekeringan akibat El Nino kembali menempatkan pasokan pangan Indonesia dalam perhatian. Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia mampu menghadapi tantangan itu karena kondisi pangan nasional disebut aman.

Keyakinan pemerintah didasarkan pada capaian swasembada pangan yang disebut lebih cepat dari rencana. Target yang sebelumnya dipasang untuk empat tahun dilaporkan telah tercapai dalam satu tahun.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat Sidang Tahunan MPR RI 2026 serta Sidang Bersama MPR RI, DPR RI, dan DPD RI. Sidang berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat (14/8/2026).

“Kita alhamdulillah dapat saya laporkan di majelis ini soal pangan, soal makanan untuk rakyat Indonesia kita berada dalam keadaan aman dan kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan termasuk tantangan El Nino, yang katanya tahun ini El Nino-nya akan berat, berarti El Nino yang paling dahsyat,” kata Prabowo.

Risiko bagi Padi pada Akhir 2026

Sektor pertanian, khususnya tanaman padi, menghadapi risiko ketika curah hujan berkurang. Periode Desember 2026 hingga Februari 2027 menjadi perhatian karena berkurangnya pasokan air dapat memengaruhi produksi pangan.

Awal musim hujan yang terlambat juga dapat mengubah jadwal dan kondisi tanam di berbagai daerah. Dampak tersebut membuat kesiapan menghadapi musim kering menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan pangan.

Informasi yang dikutip inet.detik.com menyebut El Nino di Pasifik diperkirakan berlangsung sekitar delapan sampai sembilan bulan. Fenomena itu diproyeksikan berlangsung dari pertengahan 2026 hingga kuartal pertama 2027.

Durasi tersebut membuat ancaman tidak terbatas pada satu fase musim saja. Pemantauan curah hujan diperlukan karena dampaknya dapat menjalar ke kebutuhan air pertanian dalam beberapa bulan berikutnya.

Mengapa El Nino Membuat Indonesia Lebih Kering

El Nino terjadi ketika suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur menghangat di atas kondisi normal. Pemanasan ini meningkatkan pembentukan awan di Pasifik tengah dan dapat mengurangi curah hujan di wilayah sekitarnya, termasuk Indonesia.

Dampak fenomena ini berbeda antarnegara. Indonesia cenderung mengalami kondisi lebih kering, sedangkan wilayah Amerika Latin tertentu seperti Peru dapat menghadapi peningkatan curah hujan.

BMKG membagi intensitas El Nino melalui nilai indeks Nino 3.4. Suatu kondisi disebut El Nino bila indeks tersebut konsisten berada dalam kategori El Nino selama lima bulan berturut-turut.

KategoriRentang Indeks Nino 3.4Keterangan
Lemah0,5 hingga 1,0El Nino lemah
Moderat1,0 hingga 2,0El Nino moderat
KuatLebih dari 2,0El Nino kuat

Klasifikasi tersebut penting untuk membaca potensi gangguan cuaca di tingkat global dan regional. Meski demikian, tingkat dampak pada suatu wilayah tetap dipengaruhi pola hujan serta kondisi geografis masing-masing negara.

Karhutla Menjadi Ancaman Tambahan

Kondisi kering berkepanjangan tidak hanya memberi tekanan pada produksi pangan. Periode ini juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla.

Pemerintah menempatkan capaian swasembada sebagai penyangga dalam menghadapi risiko berkurangnya air bagi pertanian. Prabowo menyebut keberanian menghadapi persoalan menjadi bagian dari capaian yang kini diandalkan untuk menjaga pangan tetap tersedia.

Dengan potensi El Nino hingga kuartal pertama 2027, perhatian akan tertuju pada perkembangan hujan dan kesiapan sektor pertanian. Stabilitas pasokan pangan akan bergantung pada kemampuan menghadapi kondisi kering serta dampak turunannya.

Baca Juga