Pasar Asia menjadi tujuan terbesar kendaraan Toyota yang diproduksi di Indonesia pada semester pertama 2026. Kawasan tersebut menyerap 57,8 persen dari seluruh pengiriman, jauh di atas Amerika yang berkontribusi 29,5 persen dan Timur Tengah 12 persen.
Sebaran pasar itu memperlihatkan jangkauan manufaktur Toyota Indonesia yang telah melampaui 100 negara. Pengiriman mencakup kawasan Asia, Amerika Selatan, Afrika, Timur Tengah, Australia, serta Oseania.
| Kawasan Tujuan | Kontribusi terhadap Ekspor |
|---|---|
| Asia | 57,8% |
| Amerika | 29,5% |
| Timur Tengah | 12,0% |
Ekspor Tumbuh Lebih Cepat dari Industri
Total pengiriman kendaraan utuh Toyota Indonesia mencapai 145 ribu unit sepanjang Januari hingga Juni 2026. Jumlah itu meningkat 10,7 persen dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekspor Toyota melampaui kenaikan ekspor otomotif nasional yang berada di kisaran 7,7 persen. Dari total ekspor CBU Indonesia sebanyak 251.705 unit, Toyota mengambil porsi 57,6 persen.
Data tersebut menunjukkan pentingnya permintaan luar negeri bagi fasilitas produksi Toyota di dalam negeri. Sejak memulai ekspor pada 1987 hingga semester pertama 2026, Toyota Indonesia telah mengirim 3.296.874 unit kendaraan secara kumulatif.
Avanza hingga Yaris Cross Memimpin
Sejumlah kendaraan penumpang menjadi andalan pengiriman Toyota dari Indonesia. Avanza dan Veloz menempati posisi teratas, disusul Raize serta Yaris Cross.
| Model | Pengiriman Januari-Juni 2026 |
|---|---|
| Avanza dan Veloz | 32.571 unit |
| Raize | 26.082 unit |
| Yaris Cross | 20.441 unit |
Pengiriman Toyota Raize mencapai 26.082 unit selama enam bulan pertama 2026. Sementara itu, Yaris Cross mencatat volume 20.441 unit dan Avanza bersama Veloz mencapai 32.571 unit.
Komposisi model tersebut memperlihatkan kendaraan produksi Indonesia dipasarkan untuk kebutuhan yang beragam. Produk konvensional masih menjadi fondasi utama, namun kendaraan elektrifikasi mulai menambah volume ekspor.
Hybrid Produksi Lokal Mulai Diminati
Kijang Innova Zenix Hybrid dan Yaris Cross Hybrid telah dikirim sekitar 62 ribu unit secara kumulatif sejak 2023. Angka tersebut mencerminkan adanya permintaan terhadap kendaraan hybrid buatan Indonesia di sejumlah negara.
Model hybrid melengkapi jajaran kendaraan konvensional dalam ekspor Toyota Indonesia. Perluasan pilihan produk ini juga memperkuat peran manufaktur lokal untuk memenuhi pasar global yang kompetitif.
Selain mobil utuh, Toyota Indonesia melakukan pengiriman CKD atau bagian kendaraan terurai. Ekspor turut mencakup komponen kendaraan, mesin utuh, komponen mesin, serta die yang digunakan dalam proses pengepresan.
Kolaborasi Pemasok Menjadi Penopang
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Nandi Julyanto, menyatakan ekosistem produksi didukung lebih dari 760 rantai pasok lokal. Jaringan itu mencakup pula industri kecil dan menengah.
“Konsistensi kinerja ekspor tidak terlepas dari hasil kerja keras anak bangsa dan kolaborasi yang melibatkan lebih dari 760 rantai pasok lokal, termasuk Industri Kecil dan Menengah (IKM), serta dukungan dari Pemerintah Indonesia,” ujar Nandi Julyanto.
Menurut Nandi, kolaborasi tersebut berperan dalam menjaga daya saing industri otomotif nasional di tengah dinamika geopolitik global. Kinerja ekspor pada semester pertama 2026 menunjukkan produk lokal terus menjadi bagian dari pasokan Toyota ke berbagai wilayah dunia.






