Fasilitas perakitan Mazda di Citeureup, Bogor, diarahkan untuk mengambil peran yang lebih besar daripada melayani pasar domestik. Pemerintah berharap pabrik tersebut kelak dapat memasok kendaraan rakitan Indonesia ke negara-negara ASEAN hingga Australia.
Ambisi ini menjadikan peningkatan kapasitas dan penambahan model lokal sebagai perhatian utama. Tanpa penguatan produksi, peluang menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor kendaraan Mazda akan sulit diperluas.
Mazda Indonesia Plant dioperasikan oleh PT Eurokars Produksi Pratama. Peresmian fasilitas itu berlangsung pada Selasa, 28 Juli 2026, dengan Kementerian Perindustrian menyampaikan dorongan ekspor secara terbuka.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin, Setia Diarta, menyatakan harapan agar Indonesia dipertimbangkan sebagai salah satu basis ekspor. Kawasan ASEAN dan Australia disebut sebagai pasar yang menjadi sasaran pengembangan tersebut.
Kapasitas Awal dan Peluang Pengembangan
Pabrik Mazda Bogor memiliki kapasitas produksi hingga 10.000 unit setiap tahun. Kemenperin berharap kapasitas itu terus berkembang melalui investasi baru dan tambahan kendaraan yang dirakit secara lokal.
| Hal yang Didorong | Kondisi Saat Ini | Arah Pengembangan |
|---|---|---|
| Produksi pabrik | Hingga 10.000 unit per tahun | Peningkatan kapasitas |
| Model kendaraan | Dirakit di Indonesia | Penambahan model lokal |
| Pasar tujuan | Pasar domestik | ASEAN dan Australia |
Keberadaan pabrik di Bogor dinilai menjadi momentum untuk memperkuat produksi kendaraan penumpang nasional. Pemerintah juga menginginkan sektor otomotif tumbuh dengan basis inovasi, keberlanjutan, dan kemampuan ekspor yang lebih kuat.
Rencana ekspor tidak dipisahkan dari perubahan arah teknologi kendaraan. Kemenperin turut meminta PT Eurokars Produksi Pratama mempertimbangkan keterlibatan dalam program Low Carbon Emission Vehicle atau LCEV.
Peran LCEV bagi Industri Otomotif
Program Low Carbon Emission Vehicle ditujukan untuk mempercepat transformasi industri menuju kendaraan yang lebih rendah emisi. Cakupannya meliputi kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV, kendaraan hybrid, dan plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV.
Keterlibatan produsen perakitan dalam skema tersebut dipandang dapat mendukung penguatan industri komponen nasional. Pemerintah juga mengaitkannya dengan upaya membangun industri otomotif yang lebih ramah lingkungan.
| Data LCEV | Jumlah |
|---|---|
| Model kendaraan | 56 model |
| Varian kendaraan | 128 varian |
| Perusahaan perakitan | 16 perusahaan |
| Pemasok rantai pasok | 322 perusahaan |
Ekosistem LCEV disebut telah memperluas jumlah perusahaan perakitan hingga delapan kali lipat dibandingkan masa awal program. Jumlah pemasoknya pun meningkat dari 142 perusahaan menjadi 322 perusahaan.
Ekspansi ekosistem tersebut menyerap sekitar 195.000 tenaga kerja secara langsung. Angka ini menunjukkan bahwa peralihan menuju kendaraan rendah emisi berkaitan langsung dengan perkembangan kegiatan manufaktur dan pemasok domestik.
Posisi Mazda Indonesia dalam agenda ini berada pada persimpangan antara peningkatan produksi, ekspor, dan teknologi rendah emisi. Tahap berikutnya yang didorong pemerintah adalah memperbesar kapasitas, memperluas pilihan model, serta menyiapkan pasokan untuk pasar ASEAN dan Australia.






