Bukan Jalan ke Alam Lain, Mimpi Jelas Terbentuk dari Ingatan dan Emosi

Mimpi yang sangat jelas dapat terasa seperti pengalaman langsung, tetapi sensasi itu bukan petunjuk adanya perjalanan menuju alam lain. Ilmu pengetahuan saat ini menjelaskan pengalaman tersebut melalui kerja otak yang mengolah ingatan, emosi, persepsi, dan imajinasi saat tidur.

Otak dapat menyusun potongan pengalaman lama menjadi peristiwa baru yang terasa utuh bagi orang yang bermimpi. Hasilnya, seseorang mungkin merasa sedang berbicara dengan orang tertentu, berada di lokasi asing, atau menjalani kejadian yang seolah benar-benar berlangsung.

Ingatan dan emosi menjadi bahan dasar mimpi

Selama tidur, terutama pada fase REM, otak memproses ulang pengalaman yang diperoleh ketika terjaga. Proses ini membuat detail tentang orang, tempat, serta peristiwa yang pernah dialami dapat kembali muncul dalam mimpi.

Hipokampus dan jaringan korteks memiliki peran dalam konsolidasi memori. Keterlibatan kedua jaringan tersebut membantu menjelaskan kemunculan fragmen masa lalu dalam cerita mimpi.

Fragmen itu tidak disajikan ulang secara persis seperti rekaman. Otak dapat mencampurkan memori dengan imajinasi secara kreatif sehingga menghasilkan rangkaian peristiwa yang tidak lazim dalam kehidupan sehari-hari.

Karena aktivasi pada jaringan otak dapat berlangsung secara spontan, alur mimpi tidak selalu mengikuti logika. Perubahan lokasi mendadak, pertemuan dengan tokoh dari masa berbeda, atau kejadian yang mustahil dapat muncul dalam satu pengalaman tidur.

Tidur bukan kondisi otak yang sepenuhnya pasif

Tubuh beristirahat ketika tidur, tetapi otak tidak menghentikan seluruh aktivitasnya. Saat terjaga, otak mengolah informasi dari lingkungan untuk membangun persepsi, sementara saat tidur ia tetap menjalankan berbagai proses internal.

Prof Husin Alatas, Guru Besar Fisika Teori IPB University, menjelaskan otak sebagai sistem kompleks yang tersusun atas miliaran neuron. Sel saraf tersebut berhubungan melalui sinyal listrik dan komunikasi kimiawi dengan bantuan neurotransmiter.

Jaringan neuron yang aktif membuat otak masih mampu menghasilkan pengalaman yang terasa lengkap. Kondisi itu menjelaskan mengapa mimpi dapat terasa meyakinkan walaupun isi dan urutannya sering kali tidak masuk akal.

“Ketika tidur, aktivitas otak tidak berhenti. Justru pada fase rapid eye movement (REM), aktivitas beberapa wilayah otak mendekati kondisi saat terjaga,” kata Prof Husin, sebagaimana dikutip Kompas.com dari laman IPB University. Fase REM menjadi tahap ketika mimpi paling sering dan paling jelas dialami.

Multiverse tidak menjelaskan pengalaman bermimpi

Gagasan alam semesta lain memang dibahas dalam fisika modern, termasuk melalui interpretasi Many-Worlds dalam mekanika kuantum. Interpretasi itu mengusulkan setiap kemungkinan hasil pengukuran kuantum terealisasi pada cabang alam semesta berbeda.

Dalam kosmologi, hipotesis multiverse juga berkembang dari teori inflasi kosmik. Kedua gagasan tersebut masih bersifat teoretis dan belum disertai bukti observasional langsung.

Prof Husin menegaskan tidak ada teori fisika yang menghubungkan mimpi dengan akses menuju alam semesta paralel. Karena itu, mimpi yang terasa nyata tidak dapat dijadikan bukti bahwa seseorang memasuki realitas berbeda.

Mekanisme mimpi masih terus dipelajari, tetapi pengetahuan ilmiah yang ada mengarah pada konstruksi internal otak. Pengalaman imersif saat tidur muncul dari pertemuan memori, emosi, persepsi, dan imajinasi, bukan dari bukti akses ke dunia lain.

Baca Juga