Foto Apollo Menunjukkan Kontras Aneh, Tanah Terang di Bawah Langit Hitam

Foto pendaratan Apollo di Bulan menampilkan pemandangan yang tampak bertentangan pada pandangan pertama. Permukaan Bulan terlihat terang oleh Matahari, sementara ruang di atasnya tetap menjadi langit hitam pekat.

Kontras itu bukan akibat cahaya Matahari yang lemah. Bulan hampir tidak memiliki atmosfer, sehingga cahaya yang datang tidak tersebar ke seluruh arah seperti yang terjadi di langit Bumi.

Permukaan Terang Tidak Membuat Langit Ikut Cerah

Sinar Matahari menerangi objek yang terkena langsung, termasuk tanah dan bebatuan di Bulan. Agar cahaya juga tampak memenuhi langit, foton perlu bertumbukan dengan partikel atau memantul dari objek menuju mata pengamat.

Di Bulan dan Merkurius, ketiadaan atau sangat tipisnya atmosfer membuat proses itu hampir tidak terjadi. Seorang pengamat dapat menyaksikan permukaan yang sangat terang pada siang hari tanpa melihat warna biru atau putih di langit.

Ruang antarbintang juga hampir menyerupai ruang hampa. Gas dan debu kosmik tetap ada, tetapi jumlahnya tidak cukup rapat untuk menyebarkan cahaya Matahari seperti atmosfer sebuah planet.

Karena itu, gelapnya ruang angkasa tidak berarti tidak ada cahaya di dalamnya. Banyak cahaya bergerak lurus tanpa dipantulkan atau dihamburkan ke arah mata manusia.

Bumi dan Mars Memiliki Tampilan Berbeda

Langit biru di Bumi terbentuk karena atom, molekul, dan debu dalam atmosfer berinteraksi dengan cahaya Matahari. Cahaya kemudian tersebar ke berbagai arah, sehingga pengamat tetap melihat langit terang ketika tidak menatap Matahari secara langsung.

Cahaya biru lebih banyak tersebar daripada cahaya merah karena panjang gelombangnya lebih pendek. Proses ini menjelaskan warna langit pada siang hari dan tidak berarti ruang angkasa di luar Bumi ikut berubah menjadi biru.

LokasiKondisi atmosferTampilan langit
BumiAtmosfer cukup tebalBiru pada siang hari
MarsSekitar 100 kali lebih tipis dari BumiBiru keabu-abuan, dapat kemerahan saat berdebu
Bulan dan MerkuriusTidak ada atau sangat tipisHitam pada siang dan malam hari

Mars memiliki atmosfer sekitar 100 kali lebih tipis daripada Bumi, tetapi masih cukup untuk memengaruhi warna langitnya. Pada siang hari, langit Mars dapat tampak biru keabu-abuan akibat interaksi cahaya dengan partikel di atmosfer.

Ketika angin mengangkat debu dari permukaan Mars, tampilan langit dapat berubah lebih kemerahan. Perubahan ini memperlihatkan bahwa banyaknya partikel dan sifat atmosfer menentukan bagaimana cahaya terlihat oleh pengamat.

Mengapa Langit Malam Tidak Dipenuhi Bintang

Gelapnya langit malam memunculkan persoalan yang dikenal sebagai Paradoks Olbers. Paradoks tersebut mempertanyakan mengapa langit tidak dipenuhi cahaya, padahal Alam Semesta memiliki jumlah bintang yang sangat banyak.

Heinrich Olbers pernah menduga adanya materi antarbintang yang menyerap cahaya bintang. Namun, materi yang terus menyerap energi cahaya semestinya akan memanas lalu memancarkan cahaya sendiri.

Penjelasan yang berkembang pada abad ke-20 menghubungkan persoalan ini dengan Alam Semesta yang terus mengembang. Cahaya dari galaksi yang bergerak menjauh dapat bergeser menuju panjang gelombang di luar kemampuan mata manusia, termasuk inframerah, ultraviolet, dan gelombang radio.

Mata manusia hanya mendeteksi bagian terbatas dari spektrum elektromagnetik. Inet.detik.com, yang mengutip Orbital Today, menyebut ruang angkasa akan tampak jauh lebih penuh cahaya apabila manusia dapat melihat gelombang mikro.

Dengan demikian, pemandangan dari Bulan menjadi ilustrasi langsung mengenai peran atmosfer dalam membentuk langit yang terlihat dari permukaan planet. Tanpa hamburan oleh partikel, Matahari dapat membuat tanah tampak silau tanpa menghapus gelapnya ruang di atas kepala.

Baca Juga