Rindu Rasa Malaysia? Jakarta Punya Laksa, Teh Tarik, dan Ayam Masak Merah

Kerinduan terhadap sajian Malaysia dapat dijawab lewat Malaysian Gastronomic Month 2026 yang berlangsung di Jakarta. Program ini mengumpulkan hidangan seperti ayam masak merah, daging masak hitam, laksa, teh tarik, dan kuih ketayap dalam satu buffet makan malam.

Acara digelar di Café Gran Vía, Gran Meliá Jakarta, pada 27 Juli hingga 14 Agustus 2026. Pengunjung dapat datang setiap hari antara pukul 18.00 dan 22.00 WIB dengan harga Rp395.000++ per orang.

Ragam Menu dalam Satu Meja Makan

Menu yang dihadirkan mencakup beberapa tahapan makan, mulai dari pembuka sampai pencuci mulut. Susunan tersebut membawa pengunjung mengenal rasa segar, rempah kuat, hingga minuman manis khas Malaysia.

KategoriHidangan
PembukaKerabu, acar jelata
UtamaAyam masak merah, daging masak hitam, ikan asam pedas, laksa
PenutupBubur pulut hitam, kuih ketayap
MinumanTeh tarik, sirap Bandung

Kerabu dan acar jelata menjadi pilihan pembuka sebelum memasuki menu utama yang kaya bumbu. Ayam masak merah, daging masak hitam, serta ikan asam pedas menawarkan karakter rasa yang berbeda dalam susunan buffet tersebut.

Laksa menjadi salah satu pilihan utama yang tersedia dalam dua variasi kuah. Kehadiran dua jenis kuah memberi pilihan pengalaman rasa bagi pengunjung dalam satu waktu makan.

Pada bagian akhir, bubur pulut hitam dan kuih ketayap disediakan sebagai sajian manis. Teh tarik dan sirap Bandung melengkapi pilihan minuman yang dapat dinikmati bersama hidangan penutup.

Informasi Kunjungan

RincianKeterangan
TempatCafé Gran Vía, Gran Meliá Jakarta
Periode27 Juli–14 Agustus 2026
Jam makan malam18.00–22.00 WIB setiap hari
TarifRp395.000++ per orang

Pengolahan seluruh hidangan berada di bawah arahan Executive Chef Addy dari Meliá Kuala Lumpur. Menu yang dipilih tidak hanya mengedepankan cita rasa, tetapi juga tradisi dan warisan budaya dari masing-masing sajian.

Chargé d’Affaires Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia, Farzamie Sarkawi, menilai kuliner dapat mempertemukan masyarakat melalui cara yang sederhana. Ia menyebut makanan juga memiliki keterkaitan dengan sejarah serta identitas suatu negara.

“Makanan lebih dari sekadar sesuatu yang kita konsumsi. Makanan merupakan cerminan budaya, sejarah, dan identitas,” ujar Farzamie saat peluncuran program di Jakarta pada 27 Juli.

Ia menambahkan bahwa setiap hidangan mengandung cerita dan jamuan bersama dapat menjadi ruang untuk memahami tradisi. Bagi wisatawan, makanan juga dapat menjadi bagian dari kenangan setelah mengunjungi sebuah destinasi.

Menurut Liputan6.com, penyelenggaraan program ini menjadi bagian dari promosi Malaysia menjelang Visit Malaysia 2026. Pengalaman menikmati makanan Malaysia di Jakarta diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk menjelajahi negara tersebut secara langsung.

Malaysia turut menawarkan kota-kota yang semarak, situs Warisan Dunia UNESCO, pulau, hutan hujan, serta kekayaan flora dan fauna. Perayaan kuliner ini juga mencerminkan kedekatan Indonesia dan Malaysia yang telah terjalin melalui hubungan sejarah, budaya, dan pertukaran antarmasyarakat.

Baca Juga