Masa depan Piala Dunia Antarklub kembali menjadi perhatian setelah European Football Clubs atau EFC menekan FIFA terkait pengelolaan kompetisi. Organisasi yang mewakili lebih dari 800 klub itu memperingatkan bahwa anggotanya dapat meninjau ulang partisipasi pada edisi mendatang.
Ancaman tersebut penting karena klub-klub dari Eropa menjadi peserta yang sangat menentukan daya saing dan nilai komersial turnamen. Jika banyak klub memilih tidak ambil bagian, FIFA berisiko kehilangan tim-tim dari salah satu kawasan paling berpengaruh di sepak bola dunia.
Format Baru Membutuhkan Dukungan Klub Besar
Piala Dunia Antarklub 2025 menjadi edisi pertama yang menggunakan format 32 tim. Chelsea menjuarai kompetisi itu setelah mengalahkan Paris Saint-Germain pada pertandingan final.
Format tersebut mencerminkan ambisi FIFA mengembangkan turnamen antarklub dalam skala global. Namun, perluasan kompetisi tidak hanya membutuhkan peserta, melainkan juga kesepakatan yang kuat mengenai pengelolaan nilai ekonominya.
Tanpa kehadiran tim-tim besar Eropa, turnamen dapat kehilangan sebagian daya tarik olahraga dan komersialnya. Kondisi itulah yang membuat tuntutan EFC memiliki bobot besar bagi FIFA.
Surat EFC Mendahului Penghentian FFE
Menurut laporan The Guardian yang dikutip Kompas.com, EFC mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafström pada 31 Juli 2026. Surat itu tiba beberapa jam sebelum FIFA menghentikan sementara rencana Football Forward Enterprise atau FFE.
FFE menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi mengambil alih sebagian hak komersial turnamen. EFC menghendaki agar hak siar, sponsor, dan bentuk kerja sama komersial diatur melalui kesepakatan yang jelas bersama FIFA.
Organisasi tersebut juga meminta usaha patungan FIFA dan EFC memiliki kewenangan eksklusif atas urusan komersial serta operasional kompetisi. Dorongan itu disampaikan sebelum FIFA menjual hak siar Piala Dunia Antarklub Wanita 2028.
| Agenda EFC | Permintaan kepada FIFA |
|---|---|
| Pengelolaan komersial | Kejelasan peran dalam hak siar, sponsor, dan kerja sama bisnis. |
| Usaha patungan | Wewenang eksklusif untuk aspek komersial dan operasional. |
| Dana solidaritas | Penjelasan alokasi sekitar 185 juta pound bagi klub nonpeserta. |
| Laporan keuangan 2025 | Keterbukaan pendapatan dan pengeluaran turnamen. |
Tuntutan Tidak Hanya Berkaitan dengan FFE
EFC turut mempertanyakan dana solidaritas sekitar 185 juta pound yang disiapkan untuk klub yang tidak berpartisipasi. Organisasi itu juga meminta transparansi atas pemasukan dan pengeluaran Piala Dunia Antarklub 2025.
Rangkaian tuntutan tersebut menunjukkan bahwa klub-klub Eropa ingin kepastian menyeluruh tentang model pengelolaan kompetisi. Keikutsertaan dalam turnamen pun menjadi salah satu alat tawar mereka dalam dialog dengan FIFA.
EFC dipimpin Presiden Paris Saint-Germain, Nasser al-Khelaifi, dan menaungi ratusan klub. Struktur keanggotaan itu membuat organisasi tersebut memiliki pengaruh penting dalam pembentukan arah kompetisi internasional.
Kesepakatan Baru Masih Dibutuhkan
Penghentian sementara FFE belum berarti perselisihan telah selesai. FIFA masih didorong menyusun pola kerja sama baru yang memberi kejelasan bagi klub-klub Eropa dalam mengelola Piala Dunia Antarklub.
Hasil pembicaraan itu akan menentukan stabilitas kompetisi pada edisi berikutnya. Konflik ini menegaskan bahwa ambisi global FIFA berjalan beriringan dengan kebutuhan untuk memperoleh dukungan klub elite Eropa.






