Tawaran biaya kos senilai Rp13 juta setahun tidak diambil oleh mahasiswa baru Universitas Padjadjaran, Dinara Alivi Kinesya. Mahasiswi yang disapa Livi itu meminta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengalihkan bantuan kepada mahasiswa yang lebih membutuhkan.
Keputusan itu berujung pada pemberian dukungan kepada empat mahasiswa baru dari Garut, Sukabumi, Lampung, dan Kuningan. Mereka menyampaikan persoalan biaya kos maupun kuliah dalam sesi PKKMB Unpad.
Livi mengatakan biaya kosnya telah dibayarkan sebelum tawaran tersebut diberikan. Karena itu, ia memilih tidak menerima bantuan yang semula direncanakan untuk menanggung kos selama satu tahun.
“Maksudnya ya kalau Bapak emang mau bantuin, bantulah anak-anak yang memang perlu dibantu, Pak,” kata Livi dalam tayangan YouTube Unpad yang dikutip detik.com. Ucapan itu disambut meriah oleh mahasiswa yang hadir di lokasi.
Mahasiswa Mengungkap Beban Biaya
Setelah mendengar jawaban Livi, KDM memintanya memanggil mahasiswa yang benar-benar memerlukan dukungan. Livi kemudian menanyakan apakah ada penerima KIP atau mahasiswa lain yang membutuhkan bantuan.
Keisa dari Leles, Garut, menjadi salah satu mahasiswa yang maju ke panggung. Mahasiswa jurusan administrasi pemerintah itu menceritakan situasi keluarganya setelah perceraian kedua orang tuanya.
Ibunya bekerja sebagai pelayan restoran di luar kota dan menjadi penopang kebutuhan Keisa serta dua adiknya. Keisa sebelumnya tinggal bersama neneknya, tetapi kemudian harus tinggal bersama saudara setelah neneknya meninggal dunia.
Keisa menyebut kosnya berbiaya Rp550.000 per bulan dan harus dibayar bulanan karena ibunya tidak memiliki dana untuk melunasi setahun sekaligus. Ia juga mengatakan uang yang tersedia untuk makan saat itu tinggal Rp81 ribu.
| Mahasiswa dan Asal | Rincian Biaya atau Kondisi | Bantuan yang Disebut |
|---|---|---|
| Keisa, Leles, Garut | Kos Rp550.000 per bulan, keterbatasan biaya keluarga | Kos 2 tahun dan kuliah 5 semester |
| Mahasiswa dari Sukabumi | Kos Rp500 ribu per bulan dengan cicilan | Bantuan kos Rp500 ribu per bulan |
| Mahasiswa dari Lampung | Memerlukan bantuan biaya | Kos 2 tahun dan kuliah 5 semester |
| Mahasiswa dari Kuningan | Memerlukan bantuan biaya | Kos 2 tahun dan kuliah 5 semester |
KDM mengonfirmasi bantuan untuk Keisa berupa biaya kos selama dua tahun dan kuliah selama lima semester. Bantuan itu disertai ketentuan agar dihentikan bila Keisa sudah memiliki pacar, yang disanggupi oleh Keisa.
Mahasiswa asal Sukabumi juga mendapat dukungan untuk biaya kos Rp500 ribu per bulan. Skema bantuan itu mengikuti pola pembayaran kos mahasiswa tersebut yang dilakukan secara mencicil.
Berlangsung dalam PKKMB Unpad
Kegiatan tersebut berlangsung di Stadion Jati Padjadjaran, Kampus Jatinangor, pada Senin, 10 Agustus 2026. Dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru itu, KDM awalnya memanggil Livi untuk berbicara soal tempat tinggal selama kuliah.
Livi adalah lulusan SMA Yaspen Tugu Ibu 1 Depok dan diterima di Unpad melalui jalur mandiri. Ia menjelaskan bahwa biaya kos yang mencapai Rp13 juta setahun sudah dibayarkan.
Tawaran bantuan kepada Livi kemudian berubah menjadi ruang bagi mahasiswa lain untuk menyampaikan masalah finansial mereka. Mahasiswa dari Lampung dan Kuningan turut memperoleh janji bantuan kos dua tahun serta biaya kuliah selama lima semester.
Peristiwa di PKKMB Unpad itu memperlihatkan kontras antara mahasiswa yang memilih mengalihkan bantuan dan mahasiswa yang membutuhkan dukungan segera. Bantuan KDM akhirnya diarahkan pada kebutuhan tempat tinggal dan pendidikan bagi mahasiswa baru yang menghadapi keterbatasan ekonomi.






