Leuser Menopang 84% Populasi, Tekanan pada Orang Utan Sumatra Kian Berat

Kawasan Ekosistem Leuser menopang sekitar 84% populasi orang utan sumatra yang tersisa. Ketergantungan besar pada satu bentang alam membuat perlindungan hutan di kawasan ini menjadi sangat penting.

Populasi orang utan sumatra diperkirakan berjumlah sekitar 11.694 individu pada survei periode 2021-2023. Angka tersebut menurun dari sekitar 13.846 individu pada 2011.

Dalam 12 tahun, jumlahnya menyusut sekitar 19,5% atau rata-rata 1,8% setiap tahun. Penurunan itu menguatkan kekhawatiran tentang ancaman kepunahan lokal apabila tekanan terhadap hutan dan individu terus berlangsung.

Penyusutan Hutan Mengubah Ruang Hidup

Sekitar 94.399 hektare hutan di wilayah sebaran orang utan tercatat hilang sepanjang 2011 hingga 2023. Ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, pertambangan, dan perambahan ilegal disebut sebagai pemicu penyusutan kawasan berhutan.

Hutan yang hilang bukan hanya mengurangi luas habitat. Fragmentasi juga memecah ruang hidup orang utan menjadi bagian-bagian kecil yang dapat membatasi pergerakan satwa.

Penelitian mencatat sekitar 76% variasi perubahan populasi antar-metapopulasi dipengaruhi oleh hilangnya hutan. Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan kawasan berhutan berkaitan langsung dengan masa depan populasi orang utan.

Ketika habitat menyempit dan terpisah, orang utan dapat memasuki perkebunan atau permukiman. Kedekatan dengan aktivitas manusia kemudian meningkatkan peluang terjadinya konflik.

Konflik dapat berujung pada penangkapan, pembunuhan, perburuan, dan perdagangan ilegal. Ancaman terhadap individu ini memperbesar dampak dari kerusakan habitat yang telah terjadi.

Dede Aulia Rahman, peneliti Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, menilai kedua tekanan tersebut saling berkaitan. “Tidak tepat jika kita mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Keduanya saling memperkuat,” ujarnya.

Perbandingan Populasi yang Tersisa

SpesiesPerkiraan PopulasiSebaran Utama
Orang utan sumatra11.694 individu pada 2021-2023Kawasan Ekosistem Leuser
Orang utan tapanuliSekitar 716 individuTiga metapopulasi di Ekosistem Batang Toru

Orang utan tapanuli menghadapi kondisi yang lebih mengkhawatirkan dengan populasi sekitar 716 individu. Satwa ini tersebar di tiga metapopulasi dalam Ekosistem Batang Toru.

Populasi kecil yang tersebar di beberapa wilayah menghadapi risiko lebih besar ketika habitatnya terfragmentasi. Kapasitas pemulihannya juga lebih terbatas bila terjadi kehilangan individu.

Menurut keterangan IPB University yang dikutip CNBC Indonesia, metode dan wilayah pengamatan pada survei 2011 serta 2021-2023 dibuat sebanding. Dede menyebut kondisi penurunan populasi ini perlu diperlakukan sebagai keadaan darurat konservasi.

Reproduksi Lambat Membatasi Pemulihan

Orang utan betina umumnya hanya melahirkan satu anak setiap kelahiran. Jarak antarkelahiran yang berkisar tujuh sampai sembilan tahun membuat pemulihan populasi berlangsung sangat lambat.

Karena itu, menjaga individu yang ada sama pentingnya dengan mempertahankan hutan sebagai ruang hidup. Kehilangan satu individu dapat membawa dampak yang panjang bagi populasi di alam.

Upaya yang dibutuhkan mencakup penghentian kehilangan habitat penting serta pemulihan koridor ekologis. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan lembaga konservasi juga perlu bekerja sama untuk menekan kematian orang utan akibat aktivitas manusia.

Baca Juga