Kurva pertumbuhan dapat membantu membedakan anak pendek karena faktor genetik, gangguan hormon, atau penyakit kronis. Karena itu, tinggi badan anak tidak seharusnya dinilai dari satu kali pengukuran saja.
Perubahan garis tinggi badan dan berat badan yang dicatat sejak kelahiran memberi petunjuk penting bagi tenaga kesehatan. Pola tersebut juga membantu mencegah anak langsung diberi label stunting tanpa evaluasi penyebab yang memadai.
Bayi pada umumnya lahir dengan panjang badan sekitar 48 hingga 50 sentimeter. Setelah itu, arah pertumbuhan tinggi dan berat badan perlu dipantau secara berkala melalui buku pemantauan.
| Kemungkinan Penyebab | Pola Tinggi dan Berat Badan | Fokus Evaluasi |
|---|---|---|
| Faktor genetik | Garis tinggi sedikit turun lalu stabil mendatar | Pemantauan sesuai pola pertumbuhan |
| Kekurangan hormon pertumbuhan | Garis tinggi turun terus dan tidak stabil | Pemeriksaan gangguan hormon |
| Penyakit kronis | Berat badan turun, tinggi dapat melambat | Pencarian penyakit yang mendasari |
Anak pendek karena faktor genetik dapat memiliki garis tinggi yang sedikit menurun sebelum bergerak mendatar secara stabil. Pola ini berbeda dari kekurangan hormon pertumbuhan yang membuat garis pertumbuhan tinggi badan terus turun.
“Tapi kalau dia ternyata ini pendeknya karena kekurangan growth hormone, kurvanya ini akan turun dan bablas,” ujar Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.). Temuan seperti itu membutuhkan evaluasi yang berbeda dari penanganan masalah asupan makanan.
Stunting Bukan Sebutan untuk Semua Anak Pendek
Stunting adalah kondisi pendek yang berkaitan dengan malnutrisi kronis atau penyakit kronis. Anak yang tingginya lebih rendah daripada teman seusianya belum tentu berada dalam kondisi tersebut.
Gangguan hormon dapat membuat pertambahan tinggi anak melambat walaupun berat badannya masih normal. Penjelasan yang dimuat lifestyle.kompas.com menyebut pola itu berbeda dengan gangguan pertumbuhan akibat masalah gizi berkepanjangan atau penyakit kronis.
Kesalahan mengidentifikasi penyebab dapat membuat penanganan tidak tepat sasaran. Keluarga juga dapat terdorong memberikan makanan tinggi kalori dan protein secara berlebihan demi mengejar tinggi badan anak.
Tambahan Kalori Tidak Selalu Dibutuhkan
Anak yang pendek tetapi tidak kurus tidak selalu memerlukan susu tinggi kalori atau tambahan protein dalam jumlah besar. Pada anak dengan berat badan lahir rendah yang pendek namun berat badannya cukup, asupan tinggi kalori berlebih dapat menaikkan risiko obesitas.
Obesitas pada masa anak dapat berkaitan dengan gangguan pubertas. Pemberian asupan untuk mendukung pertumbuhan karena itu perlu disesuaikan dengan hasil pemantauan kurva dan penyebab yang ditemukan.
Protein berlebihan juga dapat menimbulkan dampak kesehatan. dr. Aman mencontohkan pasien yang mengonsumsi sekitar 400 hingga 500 gram protein per hari untuk menjadi lebih tinggi hingga fungsi ginjalnya terganggu.
Penurunan Berat Badan Tidak Boleh Diabaikan
Berat badan yang mulai turun perlu ditelusuri sebelum dinilai sebagai akibat kurang makanan bergizi. Infeksi jangka panjang, termasuk tuberkulosis, gangguan saluran kencing, dan diare berulang, dapat menyebabkan berat badan merosot serta menghambat pertumbuhan.
“Tapi kalau beratnya mulai turun, pastikan dulu ini anak sakit apa tidak. Kan belum tentu nutrisi,” kata dr. Aman. Catatan tinggi badan, berat badan, dan gejala lain yang dibawa saat konsultasi dapat membantu menentukan pemeriksaan yang diperlukan.






