Kuota SNT Hanya 80 Siswa, Lulusan SMP Dapat Tiket Otomatis ke SMA

Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) membatasi satu angkatan hanya untuk 80 siswa di setiap lokasi. Di balik kuota yang kecil itu, lulusan SMP SNT memperoleh jalur pasti untuk melanjutkan ke SMA di sekolah yang sama tanpa seleksi ulang.

Model tersebut menggabungkan penerimaan masuk yang ketat dengan keberlanjutan pendidikan bagi murid yang telah diterima. Pemerintah menempatkan pembatasan kelas sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan sekolah unggul di daerah.

40 Kursi untuk Tiap Jenjang

Pada angkatan pertama, setiap SNT menerima 40 siswa SMP dan 40 siswa SMA. Total kapasitas di 17 lokasi mencapai 1.360 murid, dengan jumlah penerimaan yang sama untuk kedua jenjang.

JenjangKapasitas per SNTJalur Berikutnya
SMP40 siswaOtomatis ke SMA SNT yang sama
SMA40 siswaMasuk melalui seleksi awal

Kuota itu akan digunakan sebagai acuan dalam seleksi pada tahun-tahun berikutnya. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut aturan tersebut masih dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah maupun daerah.

Seleksi Sekali untuk Jalur Berkelanjutan

Mu’ti menjelaskan bahwa sifat terintegrasi SNT memungkinkan murid SMP diterima langsung di SMA SNT. Kebijakan tersebut ditujukan agar siswa dapat menempuh pendidikan dengan arah yang lebih jelas hingga perguruan tinggi.

“Tapi untuk yang SMP, lulusan SMP SNT karena terintegrasi, dia otomatis bisa diterima di SMA (SNT tersebut). Jadi tidak pakai seleksi lagi, makanya kita sebut terintegrasi,” kata Mu’ti. Jalur ini tidak menghapus seleksi masuk awal, melainkan meniadakan seleksi ketika murid SNT berpindah dari SMP ke SMA.

Proses masuk memakai tes skolastik yang dijalankan sebagai satu kesatuan seleksi. Peserta yang dituju ialah siswa dengan kemampuan akademik maupun nonakademik di atas rata-rata.

Persaingan pada Angkatan Pertama

Jumlah pendaftar SNT pada tahun ajaran 2026-2027 mencapai 2.068 orang. Sebanyak 1.360 siswa diterima untuk belajar di 17 lokasi yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.

Data tersebut menunjukkan bahwa kapasitas sekolah jauh lebih kecil dibanding jumlah peminat. Keberadaan satu sekolah unggul pada setiap daerah atau kota diharapkan memperluas kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas bagi siswa setempat.

Bukan Sekolah Berasrama

SNT hanya menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA tanpa sistem asrama. Siswa dapat tetap tinggal bersama keluarga karena konsep sekolah ini dirancang berada di kota tempat tinggal mereka.

Mu’ti menegaskan SNT memiliki karakter berbeda dari Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggulan Garuda. Perbedaan itu terlihat dari jalur pendidikan terintegrasi yang disertai pembatasan kapasitas tiap angkatan.

Guru dan Kepala Sekolah Ikut Diseleksi

Seleksi ketat juga dilakukan dalam penyiapan tenaga pendidik. Berdasarkan keterangan yang dimuat detik.com, sekitar 60.000 guru lulusan PPG Prajabatan diseleksi dan hanya 204 orang yang diterima.

Kemendikdasmen turut memilih 17 kepala sekolah dari sekitar 1.800 pendaftar di seluruh Indonesia. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto menyebut murid yang diterima sebagai angkatan pertama SNT.

Dengan sistem ini, siswa SMP SNT mendapat kepastian melanjutkan pendidikan tanpa seleksi kedua. Namun, kepastian tersebut hanya dapat diperoleh setelah melewati pintu masuk awal yang dibatasi kuota dan dirancang sangat selektif.

Baca Juga