Kronotipe Malam dan Jam Makan Jadi Sinyal yang Patut Diperhatikan untuk Lemak Tubuh

Kecenderungan alami untuk tidur dan bangun lebih malam, yang disebut kronotipe malam, berkaitan dengan persentase lemak tubuh lebih tinggi pada perempuan. Hubungan itu terlihat pula pada lemak visceral dan lemak tubuh bagian atas atau android fat.

Kelompok bertipe malam tidak hanya memiliki ukuran lemak tubuh yang berbeda, tetapi juga pola makan yang bergeser ke malam hari. Mereka cenderung memperoleh lebih banyak energi pada malam hingga larut malam daripada kelompok bertipe pagi dan menengah.

Kronotipe Membentuk Perbedaan Pola Harian

Kronotipe menggambarkan kecenderungan alami seseorang dalam menentukan waktu tidur dan waktu bangun. Dalam penelitian ini, peserta dipisahkan ke dalam kelompok tipe pagi, tipe menengah, dan tipe malam atau evening type.

Peneliti kemudian menggabungkan tipe pagi dan tipe menengah untuk dibandingkan dengan kelompok tipe malam. Perbandingan tersebut memperlihatkan perbedaan konsisten pada jadwal makan dan sejumlah ukuran komposisi tubuh.

Kelompok kronotipeKecenderungan utamaTemuan pola makan
Tipe pagiTidur dan bangun lebih awalLebih banyak makan pada waktu awal
Tipe menengahBerada di antara pagi dan malamDigabungkan dengan tipe pagi dalam analisis
Tipe malamAktif hingga malam hariAsupan energi malam lebih besar

Pada malam hingga larut malam, kelompok tipe malam tercatat mengonsumsi lebih banyak karbohidrat, lemak, dan protein. Sebaliknya, tipe pagi dan menengah lebih banyak mendapatkan asupan makanan pada waktu yang lebih awal.

Kelompok yang aktif pada malam hari juga cenderung memiliki asupan mikronutrien lebih rendah, seperti diberitakan Kompas.com. Temuan itu mengindikasikan kemungkinan konsumsi buah dan sayur yang lebih sedikit.

Ukuran Tubuh dan Kadar Darah yang Diamati

Peserta dengan kecenderungan aktif pada malam hari memiliki BMI, lingkar pinggang, dan lingkar pinggul yang lebih tinggi. Mereka juga menunjukkan persentase lemak visceral dan android fat yang lebih besar.

Perbedaan juga ditemukan pada beberapa penanda metabolik. Peserta bertipe malam tercatat memiliki kadar gula darah dan trigliserida yang lebih tinggi, sementara waktu tidur yang makin larut berkaitan dengan peningkatan insulin dan HbA1c.

Aspek yang diamatiHasil pada kelompok tipe malam
BMI dan lingkar tubuhLebih tinggi
Lemak visceral dan android fatLebih tinggi
Gula darah dan trigliseridaLebih tinggi
Insulin dan HbA1cBerkaitan dengan waktu tidur yang makin larut

HbA1c merupakan penanda yang lazim digunakan untuk menilai risiko pradiabetes dan diabetes tipe 2. Sura Alqaisi dari Department of Internal Medicine UTMB juga menyoroti leptin yang lebih tinggi dan kolesterol HDL yang lebih rendah pada individu dengan kronotipe malam.

Penelitian pada 287 Perempuan

Temuan ini berasal dari studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers dan melibatkan 287 perempuan berusia 18 hingga 45 tahun di Selandia Baru. Peneliti menelaah kaitan antara kronotipe, pola makan, komposisi tubuh, serta indikator metabolik peserta.

Alex Dimitriu, dokter spesialis psikiatri dan pengobatan tidur, menyebut orang yang aktif sampai larut malam cenderung memilih makanan yang kurang sehat setelah matahari terbenam. Mereka juga disebut memiliki waktu puasa malam lebih singkat serta BMI dan persentase lemak tubuh yang lebih tinggi.

Mir Ali, Direktur MemorialCare Surgical Weight Loss Center, menilai pengaturan waktu makan dapat menjadi bagian dari strategi mengurangi lemak tubuh. Ia menekankan pembatasan karbohidrat dan gula pada malam hari, dengan pola makan yang menitikberatkan protein dan sayuran rendah pati.

Belum Menetapkan Sebab-Akibat

Studi tersebut bersifat observasional sehingga belum membuktikan bahwa begadang secara langsung menyebabkan kenaikan berat badan atau obesitas. Pola tidur, pilihan makanan, dan kondisi tubuh dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.

Peserta penelitian hanya mencakup perempuan dari kelompok etnis tertentu di Selandia Baru, sedangkan sebagian data makan diperoleh dari laporan peserta. Karena itu, hasilnya perlu dibaca sesuai batasannya, meski penilaian kronotipe dinilai dapat membantu evaluasi gizi pada pasien dengan obesitas, pradiabetes, diabetes tipe 2, atau sindrom metabolik.

Baca Juga