Mahasiswa baru di kampus-kampus University of California menghadapi penurunan kesiapan matematika yang semakin mengkhawatirkan. Di UC San Diego, jumlah mahasiswa dengan kemampuan di bawah tingkat SMA disebut meningkat hampir 30 kali lipat dalam periode 2020–2025.
Laporan Senate-Administration Workgroup on Admissions UC San Diego bertanggal 8 Januari 2026 mencatat 70 persen dari kelompok itu memiliki kemampuan di bawah tingkat SMP. Proporsi tersebut setara sekitar satu dari 12 mahasiswa baru di kampus tersebut.
Penurunan kesiapan tidak hanya terjadi pada matematika, tetapi juga terdeteksi dalam kemampuan menulis dan berbahasa. Namun, matematika menjadi bidang yang paling kuat disorot dalam laporan tersebut.
Kondisi serupa terlihat di UC Berkeley melalui tes diagnostik Kalkulus I. Persentase mahasiswa yang dinilai siap mengikuti kalkulus turun dari 71 persen pada 2018–2020 menjadi 51 persen pada periode 2021–2023.
| Periode Tes | Peserta | Siap Mengikuti Kalkulus | Catatan |
|---|---|---|---|
| 2018–2020 | 2.200 | 71% | 0,14% di bawah aljabar dasar |
| 2021–2023 | 2.800 | 51% | Angka mencapai 44% pada 2023 |
Di UC Berkeley, sebanyak 17 persen peserta tidak mampu menjawab benar satu pun dari delapan topik dalam tes diagnostik. Lebih dari sepertiga mahasiswa pada 2022–2023 juga disebut memiliki kekurangan pemahaman matematika yang parah.
Nilai nol menjadi skor yang paling sering muncul dalam ujian tersebut, menurut dosen matematika Zvezdelina Stankova. Ia menyatakan sebagian mahasiswa datang ke kampus dengan ketertinggalan kemampuan hingga lima sampai delapan tahun.
Dampak langsung pada perkuliahan
Ketimpangan kemampuan itu membuat pengajar tidak selalu dapat langsung membahas materi inti kalkulus. Waktu yang seharusnya dipakai untuk integral dan persamaan diferensial justru terserap untuk mengulang pecahan, aljabar dasar, serta persamaan linear.
Dalam opini di The San Francisco Standard, Stankova menjelaskan tekanan yang dialami dosen ketika menghadapi kesiapan kelas yang sangat beragam. “Jam kerja yang seharusnya digunakan untuk membahas integral malah jadi pelajaran tentang pecahan dan aljabar dasar yang seharusnya dipelajari siswa di SMP,” katanya.
Stankova menilai persoalan tersebut bukan pengalaman yang terbatas pada satu profesor atau satu kampus. Dampaknya menjadi lebih besar ketika mahasiswa masuk ke jurusan yang memiliki tuntutan matematika tinggi, termasuk teknik.
Perdebatan soal SAT dan ACT
Stankova dan ribuan dosen dari 10 kampus UC meminta universitas mempertimbangkan kembali penggunaan SAT dan ACT sebagai salah satu indikator penerimaan. Kelompok ini didukung lima peraih Nobel yang memandang hasil tes dapat memberi gambaran tambahan mengenai kesiapan akademik calon mahasiswa.
University of California menghapus persyaratan nilai SAT dan ACT secara bertahap sejak masa pandemi COVID-19 dengan pertimbangan kesetaraan. Aturan itu juga melarang staf penerimaan menggunakan hasil ujian sebagai tolok ukur seleksi.
Stankova membandingkan UC dengan MIT, Stanford, Harvard, dan Yale yang kembali mewajibkan tes setelah pandemi. Ia menilai peninjauan di UC berlangsung lambat karena evaluasi Senat Akademik direncanakan selesai pada Juni 2027.
Jika kebijakan berubah, penerapannya untuk penerimaan mahasiswa paling cepat berlangsung pada musim gugur 2028. Menurut Stankova, tanpa indikator tes, mahasiswa yang belum siap dapat masuk ke bidang STEM yang berat, sementara pelamar dengan pengalaman kalkulus bisa tidak diterima.






