Flare hingga Botol Pemantik Disita Sebelum Demo, 30 Elemen Dijadwalkan Turun

Penyitaan flare, petasan, dan botol yang diduga menjadi pemantik bom molotov mewarnai persiapan demonstrasi di Jakarta, Selasa (18/8/2026). Polda Metro Jaya mengamankan 21 orang sebelum massa aksi berkumpul di sejumlah titik.

Pengamanan dilakukan saat 30 elemen masyarakat menjadwalkan aksi unjuk rasa di wilayah Jakarta. Kepolisian berupaya mencegah benda berbahaya digunakan untuk mengganggu jalannya penyampaian aspirasi.

Barang Berbahaya Dibawa Sebelum Aksi

Tim khusus Polda Metro Jaya melakukan pencegatan terhadap kelompok tersebut sebelum demonstrasi dimulai. Para orang yang diamankan langsung dibawa ke Markas Polda Metro Jaya untuk diperiksa.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan pemeriksaan ditangani penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum. Penyidik masih meminta keterangan untuk mengetahui motif dan asal barang yang dibawa.

“Tim Preventive Strike dan Preemptive Education Polda Metro Jaya mengamankan 21 orang yang saat ini dalam proses dimintai keterangan di Ditreskrimum Polda Metro Jaya terkait tentang membawa barang-barang yang dapat membahayakan peserta aksi dan petugas pengamanan serta masyarakat di sekitar,” ujar Budi di Lapangan Presisi, Jakarta Selatan.

Menurut Budi, benda yang diamankan terdiri atas flare, petasan, serta botol yang dipersiapkan sebagai pemicu atau pemantik bom molotov. Polisi juga mendalami kemungkinan adanya jaringan atau rantai pasokan barang-barang tersebut.

Risiko Gangguan di Tengah Massa

Polisi menilai barang sitaan itu dapat membahayakan peserta aksi, petugas, dan warga di sekitar lokasi demonstrasi. Keberadaan benda-benda tersebut juga dinilai berpotensi mengubah aksi yang seharusnya tertib menjadi situasi yang tidak terkendali.

Berdasarkan pemeriksaan awal, kelompok yang diamankan diduga sengaja menyusup untuk memicu bentrokan. Kepolisian menyebut mereka diduga bukan bagian dari elemen mahasiswa yang berencana mengikuti demonstrasi.

Budi mengatakan pembawa barang berbahaya dan pelaku gangguan dalam penyampaian pendapat di muka umum umumnya tidak berafiliasi dengan mahasiswa. Pemeriksaan terhadap 21 orang itu masih berlanjut untuk memperjelas dugaan tersebut.

Salah satu aksi yang dijadwalkan berlangsung berasal dari BEM SI-UI dan dimulai pukul 13.00 WIB. Massa membawa tuntutan penghentian KKN, reformasi agraria, evaluasi Proyek Strategis Nasional atau PSN, serta penanganan harga bahan pokok dan BBM.

Tuntutan lain mencakup penetapan status bencana nasional untuk Flores dan Sumatra. Polisi menyatakan pengamanan dilakukan tanpa menutup ruang warga untuk menyampaikan aspirasi secara damai.

Bundaran HI Diminta Dipertimbangkan Kembali

Kepolisian mengimbau peserta aksi mempertimbangkan lokasi alternatif selain Bundaran HI. Kawasan itu dipandang penting karena menjadi simpul kegiatan ekonomi, perhotelan, perbelanjaan, dan transportasi publik.

Patung Kuda, Semanggi, serta Sudirman juga disoroti karena dapat terdampak bila dipakai untuk demonstrasi berskala besar. Budi menyebut kawasan tersebut sebagai titik penting yang menopang kegiatan masyarakat sehari-hari.

Pengaturan arus kendaraan akan diterapkan secara situasional mengikuti kondisi demonstrasi. Polda Metro Jaya menegaskan tidak ada pengalihan lalu lintas permanen dalam agenda pengamanan tersebut.

Pencegatan terhadap 21 orang menjadi bagian dari langkah antisipasi sebelum massa aksi bergerak. Polisi masih melanjutkan pemeriksaan sambil menjaga keamanan di titik-titik yang berpotensi terdampak demonstrasi.

Baca Juga