Mesin roasting di Kedai Biji Kopi, Banjarbaru, harus berhenti saat listrik padam. Gangguan itu menjadi gambaran dampak pemadaman bergilir terhadap UMKM di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Durasi pemadaman yang mencapai lima hingga enam jam membuat usaha berbasis peralatan listrik kehilangan waktu operasional. Situasi tersebut terjadi ketika Kalsel dan Kalteng kembali mengalami krisis pasokan listrik dalam waktu dekat.
Aktivitas Kedai Kopi Terganggu
Pemilik Kedai Biji Kopi, Dwi Putera Kurniawan, menyatakan aliran listrik menjadi penopang utama mesin roasting. Saat pasokan terputus, proses pengolahan kopi tidak dapat diteruskan.
“Saat listrik padam, maka otomatis kegiatan mesin roasting kopi juga harus berhenti,” tutur Dwi Putera Kurniawan. Pernyataan itu mencerminkan dampak langsung pemadaman terhadap usaha yang menggunakan mesin listrik dalam proses produksinya.
Dinas Koperasi dan UKM Kalimantan Selatan menyatakan banyak pelaku UMKM menyampaikan laporan mengenai dampak krisis listrik. Pemadaman yang tersebar dari pagi sampai malam membuat pengaturan aktivitas usaha menjadi semakin sulit.
Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Koperasi dan UKM Kalimantan Selatan, Bambang Dedi Mulyadi, berharap PLN memperhatikan persoalan tersebut. “Kita harapkan ini menjadi perhatian bagi PLN, karena pemadaman listrik tentu sangat berpengaruh pada kegiatan usaha UMKM,” ujarnya.
Pemadaman Berlaku Sejak Kamis
PLN Unit Induk Distribusi wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah kembali menerapkan pemadaman bergilir sejak Kamis, 23 Juli. Gangguan terjadi di berbagai wilayah dalam periode pukul 07.00 hingga 23.00 WITA.
| Komponen | Informasi |
|---|---|
| Wilayah gangguan | Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah |
| Mulai diberlakukan | Kamis, 23 Juli |
| Rentang waktu | 07.00 hingga 23.00 WITA |
| Durasi terdampak | Lima hingga enam jam |
PLN menyatakan gangguan kelistrikan telah memengaruhi pasokan listrik kepada masyarakat. Rincian penyebab gangguan sistem interkoneksi pada pemadaman kali ini belum diumumkan secara resmi.
Gangguan interkoneksi membuat distribusi pasokan kepada pelanggan terhambat. Dampaknya kini dirasakan tidak hanya oleh rumah tangga, melainkan juga oleh sektor usaha yang membutuhkan aliran listrik untuk menjalankan mesin dan peralatan.
Belum Diketahui Hubungannya dengan Gangguan Awal Juli
Menurut Media Indonesia, gangguan terbaru merupakan krisis listrik kedua di Kalsel dan Kalteng. Pada awal Juli 2026, kedua provinsi tersebut juga menghadapi gangguan pasokan.
Saat itu, PLN menyebut kerusakan PLTUG Bangkanai di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, sebagai penyebab krisis listrik. PLN belum menjelaskan apakah gangguan sistem interkoneksi terbaru berkaitan dengan persoalan sebelumnya.
Masyarakat dan pelaku UMKM menantikan kejelasan penyebab gangguan serta pemulihan pasokan listrik. Kepastian tersebut penting agar kegiatan produksi, layanan usaha, dan kebutuhan pelanggan dapat kembali berjalan tanpa hambatan pemadaman berkepanjangan.






