Hanya 30 persen lulusan sarjana musim semi 2025 di Amerika Serikat yang memperoleh pekerjaan tetap. Temuan survei Cengage Group pada Juni dan Juli 2026 itu menegaskan sulitnya peralihan dari kampus menuju dunia kerja.
Sisanya belum bekerja atau berada dalam pekerjaan yang tidak stabil. Departemen Tenaga Kerja AS juga mencatat rata-rata tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi usia 20 hingga 24 tahun mencapai 6,6 persen selama 12 bulan hingga Mei 2025.
Tantangan tersebut tidak hanya dipicu oleh jumlah lulusan yang memasuki pasar kerja. Perusahaan semakin ketat memilih keterampilan dan pengalaman yang dinilai sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pekerjaan Alternatif Mulai Dilirik
Ketika jalur perekrutan kantoran menyempit, sebagian pekerja muda mulai mencari arah karier lain. Pekerjaan sebagai teknisi, membangun usaha, serta bidang konstruksi menjadi pilihan bagi mereka yang ingin bekerja sesuai keterampilan dan minat.
Chris Henderson, lulusan manajemen bisnis di AS, memilih bekerja sebagai teknisi listrik. Ia menilai pendidikan tinggi tetap berguna karena dapat membentuk kemampuan manajemen waktu dan membantu seseorang mengenali minat utamanya.
Pergeseran pilihan ini terjadi saat pekerjaan tingkat pemula semakin sulit ditemukan. Sejumlah tugas yang dahulu dapat menjadi pintu masuk lulusan baru kini dapat dikerjakan dengan bantuan kecerdasan buatan atau AI.
Perputaran Karyawan Menurun
Perusahaan juga menghadapi perputaran tenaga kerja yang lebih lambat dibanding masa sebelumnya. Banyak pekerja yang mendapatkan gaji tinggi pada 2021 dan 2022 memilih bertahan di jabatan yang sama meski tanpa promosi.
Ekonom senior AS Nich Tremper menyatakan keadaan itu mengurangi pembukaan posisi baru bagi pekerja pemula. “Tanpa adanya lowongan pekerjaan baru, sulit bagi karyawan tingkat pemula untuk mendapatkan kesempatan dan memulai karier mereka,” kata Tremper, dikutip dari CNBC.
Syarat pengalaman kerja selama tiga hingga lima tahun memperberat situasi tersebut. Lulusan baru menghadapi tuntutan pengalaman yang belum bisa dipenuhi sebelum mendapatkan pekerjaan pertama.
Pengangguran Lulusan di Indonesia
Tekanan serupa terlihat pada data Sakernas Badan Pusat Statistik per Mei 2026. Dari 7,22 juta penganggur di Indonesia, sekitar 1,033 juta orang atau 14,31 persen merupakan lulusan D4-S1.
Persaingan juga meluas karena sarjana dapat melamar pekerjaan dengan syarat pendidikan SMA atau SMK. Lulusan pendidikan menengah akhirnya ikut menghadapi kompetisi yang lebih padat.
| Kelompok Pendidikan | Jumlah Penganggur | Keterangan |
|---|---|---|
| SMA | Sekitar 2,02 juta | 28% dari 7,22 juta penganggur |
| SMK | Sekitar 1,61 juta | Termasuk kelompok dengan pengangguran tinggi |
| D4-S1 | Sekitar 1,033 juta | 14,31% dari total penganggur |
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Agus Sartono, memperkirakan pencari kerja dari lulusan SMA, diploma, dan sarjana dapat mencapai 10,67 juta orang setiap tahun. Pengembangan keterampilan pendukung karier jangka panjang menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan pekerja muda untuk menghadapi persaingan tersebut.






