Kerangka titanosaurus yang relatif utuh di Lo Hueco, Spanyol, semula dipandang sebagai tanda bahwa bangkainya segera tertutup sedimen. Lubang-lubang pada zirah kulit dinosaurus itu kini menunjukkan bahwa penafsiran tersebut perlu ditinjau kembali.
Bekas aktivitas kumbang mengindikasikan sisa tubuh titanosaurus sempat terbuka dalam waktu cukup lama. Organisme pemakan bangkai hanya dapat mencapai dan mengebor tulang ketika bangkai belum berada di bawah lapisan tanah.
Bukti Baru dari Lempengan Zirah
Peneliti menemukan struktur bioerosi pada osteoderm, yaitu lempengan zirah kulit titanosaurus yang tersusun dari jaringan padat. Lubang itu berbentuk setengah bola atau kantong dan memiliki pola yang khas.
Struktur tersebut diklasifikasikan dalam ichnogenus Cubiculum. Istilah itu digunakan untuk jejak organisme yang bekerja pada tulang setelah hewan mati.
Tim yang dipimpin Profesor Zain Belaústegui dari Universitas Barcelona membandingkan pola lubang fosil dengan kerusakan tulang yang dibuat organisme modern. Hasil perbandingan menunjukkan kumbang dermestid sebagai pembuat jejak yang paling mungkin.
Kumbang dermestid merupakan pemakan bangkai yang dapat memanfaatkan sisa jaringan tubuh dan mengebor bagian tulang. Banyaknya jejak pada osteoderm membuat masa paparan singkat sulit menjelaskan kondisi fosil tersebut.
| Bukti | Dampak pada Penafsiran |
|---|---|
| Kerangka relatif utuh | Pernah dianggap sebagai tanda penguburan cepat |
| Lubang pada osteoderm | Menunjukkan aktivitas pemakan bangkai sebelum penguburan |
| Jejak dalam jumlah banyak | Mendukung paparan bangkai yang lebih lama |
Dua Lapisan Fosil Perlu Dibaca Ulang
Belaústegui menyatakan banyaknya jejak gigitan serangga menunjukkan bangkai-bangkai itu terpapar dalam jangka waktu lebih panjang. Ia juga menilai temuan tersebut mengarah pada tahap biostratigrafi yang lebih lama pada dua lapisan utama pembawa fosil di Lo Hueco.
Penutupan cepat oleh sedimen sebelumnya diperkirakan melindungi kerangka dari gangguan organisme permukaan. Akan tetapi, adanya lubang-lubang tersebut memperlihatkan bahwa pembusukan dan pemanfaatan bangkai sempat berlangsung sebelum fosilisasi.
Pengujian dengan Kumbang Modern
Untuk memeriksa cara terbentuknya struktur itu, para peneliti memakai larva Dermestes frischii dalam eksperimen. Lubang yang menyerupai jejak fosil baru terbentuk setelah sedikitnya 240 jam.
Durasi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan jejak memerlukan waktu dan akses berkelanjutan pada bangkai. Kondisi alami di masa purba bahkan diperkirakan dapat membutuhkan waktu lebih panjang.
Belaústegui mengatakan, “Bagaimanapun juga, ini menunjukkan bahwa sisa-sisa tulang ini terpapar cukup lama sehingga organisme pemakan bangkai ini sempat mengebor struktur kerangka tersebut.” Pernyataan itu memperkuat posisi bioerosi sebagai bukti penting dalam rekonstruksi nasib bangkai dinosaurus.
Sumber Daya bagi Organisme Pemakan Bangkai
Ukuran titanosaurus yang sangat besar memungkinkan bangkainya menjadi sumber daya melimpah bagi berbagai organisme. Kondisi tersebut dapat membentuk komunitas pemakan bangkai yang memanfaatkan sisa tubuh dalam periode relatif panjang.
Jejak bioerosi pada tulang yang terfosilisasi dapat membantu peneliti memahami paleolingkungan dan tahapan setelah kematian hewan purba. Ketiadaan maupun keberadaan bekas serangga pada kumpulan fosil dapat mengungkap kondisi yang berbeda sebelum pengawetan terjadi.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Earth-Science Reviews juga meninjau lebih dari 140 referensi mengenai bioerosi serangga pada jaringan tulang. Cakupannya membentang dari Trias Tengah hingga Holosen, sementara Semenanjung Iberia hanya muncul dalam satu referensi pada tinjauan tersebut.






