Katy Perry Tolak Firework Mengiringi Serangan, Makna Lagu Dinilai Dirusak

Katy Perry menolak penggunaan lagu Firework untuk mengiringi video serangan militer yang diunggah akun TikTok resmi Gedung Putih. Ia menilai pemakaian itu merusak pesan utama lagu yang sejak awal ditulis sebagai karya tentang harapan dan kekuatan batin.

Penolakan tersebut disampaikan Perry melalui media sosial pada Sabtu (24/7). Sang penyanyi menyebut dirinya tidak pernah memberi persetujuan ataupun dimintai izin atas penggunaan musiknya.

Lagu penguat dipakai dalam konteks kekerasan

Video Gedung Putih memadukan lirik Firework dengan cuplikan ledakan bom. Unggahan itu turut memuat kalimat, “Iran telah diperingatkan.”

Perpaduan antara lagu bernuansa optimisme dan visual serangan militer menjadi alasan utama Perry menyampaikan keberatan secara terbuka. Ia menilai konteks tersebut tidak sejalan dengan tujuan penciptaan lagu yang dirilis pada 2010 itu.

“Saya sangat terkejut dan marah melihat Firework digunakan di akun TikTok @WhiteHouse sebagai musik latar untuk cuplikan video serangan militer,” tulis Perry. “Saya tidak menyetujui ini, saya tidak diminta, dan saya sama sekali tidak membenarkannya.”

Perry menjelaskan bahwa Firework dibuat untuk menjadi lagu tentang harapan, penyembuhan, dan kekuatan batin bagi orang yang menghadapi masa sulit. Pesan itu, menurutnya, tidak dapat dipisahkan dari identitas karya tersebut.

Ia kemudian menyebut penggunaan pesan harga diri dan peningkatan diri untuk menyertai kehancuran sebagai pelanggaran total terhadap nilai lagunya. Perry menegaskan musiknya dibuat untuk menyatukan orang, bukan merayakan peperangan.

Ketegangan Washington dan Teheran

Unggahan Gedung Putih muncul ketika pemerintahan Donald Trump dikabarkan menunda ancaman eskalasi besar-besaran terhadap Iran. Menurut CNN Indonesia yang mengutip Variety, negosiasi masih berlangsung dan pasukan Amerika Serikat tetap siaga untuk kemungkinan serangan lanjutan.

Trump menyatakan Washington “siap siaga” tetapi “tidak terburu-buru” menghadapi situasi tersebut. Ia juga mengklaim Teheran menunjukkan sikap yang lebih serius dalam membahas kemungkinan kesepakatan.

Di tengah proses itu, Komando Pusat AS disebut terus menyerang target rudal, maritim, dan nuklir Iran. Kondisi tersebut membuat penggunaan lagu populer dalam video berlatar operasi militer menjadi semakin sensitif.

Rangkaian protes dari dunia musik

Protes Perry bukan peristiwa tunggal dalam penggunaan musik untuk komunikasi politik. Musisi lain juga pernah menyampaikan keberatan ketika karya mereka dipakai tanpa izin atau dihubungkan dengan agenda yang tidak mereka dukung.

Pada Juni 2026, Ariana Grande mengecam Gedung Putih atas penggunaan lagu Bye dari 2024 dalam video TikTok yang menampilkan agen ICE menangkap serta memborgol orang-orang. Sabrina Carpenter, Olivia Rodrigo, Celine Dion, Neil Young, dan Rolling Stones juga pernah mengkritik Donald Trump terkait pemakaian lagu mereka.

Kasus ini kembali menyoroti benturan antara makna artistik yang dikehendaki musisi dan penggunaan musik dalam pesan politik. Bagi Perry, Firework tetap merupakan lagu penguat bagi pendengar, bukan pengiring visual kekerasan.

Baca Juga