Bukan Sekadar Jalan Pintas, Jalur Arktik China Hadapi Risiko Es dan Minyak

Jalur Arktik dapat mempersingkat pelayaran China-Inggris menjadi sekitar 18 hari, tetapi keuntungan waktu itu dibayangi risiko keselamatan dan lingkungan yang besar. Kapal komersial harus melintas di perairan beku utara Rusia, wilayah dengan dukungan logistik yang jauh lebih terbatas daripada rute utama.

Sea Legend menjalankan uji coba komersial dari Ningbo-Zhoushan menuju Felixstowe melalui koridor tersebut. Perjalanan itu jauh lebih cepat dibandingkan rute Asia-Eropa melalui Terusan Suez yang dapat membutuhkan lebih dari 40 hari.

RuteJarak atau tujuanWaktu tempuh
Koridor ArktikSekitar 5.500 km, China–InggrisSekitar 18 hari
Terusan SuezAsia–EropaLebih dari 40 hari

Ancaman di laut terpencil

Konsultan risiko kelautan utama Allianz untuk Asia, Kapten Nitin Chopra, menilai tantangan keselamatan pada rute terpencil itu sangat besar. Kerusakan mesin dapat lebih lama ditangani karena akses terhadap dukungan logistik terbatas.

Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kapal kandas. “Hal ini menimbulkan risiko tumpahan minyak di ekosistem yang rapuh,” tegas Chopra.

Risiko tumpahan menjadi perhatian karena sebagian armada komersial masih menggunakan bahan bakar minyak berat. Bahan bakar yang kental itu lambat terurai pada suhu dingin dan sulit dibersihkan jika terjebak di lapisan es.

Pembakaran bahan bakar juga menghasilkan karbon hitam yang mampu menyerap radiasi matahari. Dampaknya dapat mempercepat pencairan es di wilayah Arktik yang ekosistemnya sudah rentan.

Sea Legend menyatakan waktu pelayaran yang lebih singkat dapat memangkas emisi gas rumah kaca hingga separuh. Kalangan lingkungan tetap memandang konsekuensi ekologis peningkatan aktivitas kapal sebagai persoalan yang tidak dapat diabaikan.

Peluang perdagangan di tengah konflik

Di sisi lain, rute ini menawarkan keuntungan nyata bagi pengiriman yang membutuhkan kecepatan. Sea Legend menilai kendaraan listrik, baterai lithium, dan perangkat tenaga surya dapat menjadi komoditas yang cocok melalui jalur tersebut karena bernilai tinggi serta sensitif terhadap suhu.

Koridor Arktik memiliki panjang sekitar 5.500 kilometer dan melintasi lautan beku di utara Rusia. Pada kondisi tertentu, navigasi membutuhkan bantuan kapal pemecah es.

China memperkuat aktivitasnya di kawasan utara melalui dukungan Rosatom, badan nuklir negara Rusia. Lembaga itu menyediakan armada kapal pemecah es bertenaga nuklir untuk menunjang pelayaran di perairan tersebut.

Pengoperasian jalur ini dipandang sebagai langkah dalam gagasan Jalur Sutra Kutub yang didorong Presiden China Xi Jinping sejak 2017. Pengembangannya juga mengemuka ketika konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan konvensional.

Kepala Operasional Sea Legend, Li Xiaobin, menyebut krisis tersebut memperlihatkan kelemahan pada sejumlah lintasan penting. “Krisis di Timur Tengah telah mengungkap kerentanan Terusan Suez dan Selat Hormuz terhadap gejolak regional,” kata Li Xiaobin, seperti dikutip Kompas.com dari The Guardian.

Menurut Li, situasi itu memperbesar kebutuhan akan koridor perdagangan alternatif antara China dan Eropa. Namun, keterhubungan baru tersebut belum menghapus ketergantungan perdagangan global pada Selat Hormuz dan Terusan Suez.

Profesor Logistik dan Manajemen Rantai Pasokan Universitas RMIT, Vinh Thai, menyatakan biaya operasi Jalur Laut Utara masih tinggi. Masa pelayaran pada musim panas pun terbatas, sementara ancaman sanksi geopolitik perlu diperhitungkan oleh perusahaan pelayaran.

Jalur Laut Utara Rusia juga didominasi oleh pergerakan armada bayangan milik Moskwa. Thai menilai perubahan iklim dapat memperpanjang akses pelayaran, tetapi satu tumpahan minyak dapat menjadi bencana lingkungan dan ekonomi sehingga rute ini belum siap menggantikan jalur utama dunia.

Baca Juga