Akses internet di wilayah pegunungan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mulai mengubah posisi petani saat menjual hasil panen. Warga kini dapat memantau informasi harga komoditas sebelum berhadapan dengan tengkulak.
Informasi tersebut memberi petani dasar untuk membandingkan harga pasar dan menentukan pilihan transaksi dengan lebih baik. Kepala Desa Baina Barat Yuslan menyebut ketersediaan data harga membantu warga mengetahui pembanding sebelum menjual komoditas.
Akses Harga Mengubah Ruang Negosiasi Petani
Sebelumnya, keterbatasan jaringan membuat masyarakat di sejumlah wilayah terpencil sulit memperoleh informasi secara langsung. Kondisi itu membuat warga desa lebih bergantung pada informasi yang tersedia di sekitar mereka, termasuk saat menentukan harga jual hasil pertanian.
Jaringan yang didukung BAKTI membuka akses informasi dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga kecamatan bagi masyarakat pegunungan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Parigi Moutong Khairuddin menyatakan bantuan jaringan memudahkan warga memperoleh informasi tersebut.
Manfaat konektivitas juga dirasakan pelaku usaha kecil di Baina Barat. Produk makanan dapat dipotret, diunggah ke media sosial, kemudian informasi penjualannya dikirim kepada calon pembeli.
Perubahan ini memperluas fungsi internet di desa dari sekadar sarana komunikasi menjadi pendukung kegiatan ekonomi. Petani dan pelaku UMKM sama-sama memperoleh peluang untuk menjangkau informasi maupun pasar yang sebelumnya sulit diakses.
Sekolah dan Layanan Publik Mulai Bergantung pada Jaringan
Di Flores Timur, pemanfaatan jaringan turut mendorong kegiatan sekolah masuk ke sistem digital. SMAN 1 Titehena menggunakan koneksi untuk administrasi sekolah dan evaluasi pembelajaran.
Kebutuhan kapasitas jaringan terlihat ketika asesmen serentak digelar di sekolah itu. Sekitar 450 siswa bersama 50 guru dan pengawas mengakses koneksi pada waktu yang sama, sehingga bandwidth menjadi perhatian agar proses evaluasi tidak terganggu.
Kepala sekolah SMAN 1 Titehena Konradus Kudarto menyampaikan jaringan yang tersedia masih memerlukan pembenahan agar pemanfaatannya dapat lebih maksimal. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kehadiran akses merupakan tahap awal, sementara kualitas layanan menentukan kelancaran penggunaan bersama-sama.
Selain sekolah, kantor pemerintahan, kantor desa, pusat kesehatan, puskesmas, dan pustu juga mendapat manfaat dari konektivitas. Pengiriman laporan administrasi, data pendidikan, serta kebutuhan komunikasi layanan kesehatan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pencarian titik sinyal.
| Wilayah | Dukungan Konektivitas | Dampak Utama |
|---|---|---|
| Flores Timur | 6 BTS dan sekitar 262 titik akses internet | Mendukung gedung pemerintah, desa, sekolah, dan pusat kesehatan |
| Parigi Moutong | Akses jaringan bagi masyarakat pegunungan | Memudahkan pemantauan harga komoditas |
Berakhirnya Ketergantungan pada Titik Sinyal
Sebelum jaringan telekomunikasi tersedia, warga dan aparatur di beberapa daerah harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan sinyal. Kepala Dinas Kominfo Flores Timur Silvester Suban Toa Kabelen mengatakan masyarakat, tenaga pendidik, dan petugas fasilitas kesehatan pernah berjalan berkilo-kilometer hanya untuk mengirim laporan.
Ia juga menggambarkan kondisi ketika warga harus naik pohon karena sinyal tidak tersedia di permukaan tanah. Hambatan tersebut mempersulit komunikasi sehari-hari sekaligus memperlambat kebutuhan administrasi dan pelayanan dasar.
Pembangunan Infrastruktur Digital 3T melalui jaringan BAKTI membuka keterisolasian komunikasi di sejumlah daerah. Teknologi.bisnis.com melaporkan konektivitas itu turut memperkuat aktivitas ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan layanan publik di pelosok Nusantara.
Bagi warga desa, dampaknya terlihat dalam aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dari memeriksa harga panen sampai menawarkan produk lokal. Bagi sekolah dan fasilitas kesehatan, jaringan menjadi penopang pengiriman data serta pelayanan yang sebelumnya sulit dijalankan dari wilayah terpencil.






