Indonesia dan Vietnam telah sama-sama berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas, tetapi keduanya masih menghadapi pekerjaan besar menuju 2045. Persaingan tidak lagi hanya berkaitan dengan pertumbuhan, melainkan kemampuan menciptakan nilai tambah industri dan memperkuat institusi.
Vietnam menargetkan status negara berpendapatan tinggi, sedangkan Indonesia membidik negara maju. Posisi awal Indonesia masih sedikit lebih tinggi, tetapi Vietnam menunjukkan percepatan transformasi yang perlu diperhatikan.
| Indikator | Vietnam | Indonesia |
|---|---|---|
| GNI per kapita 2025 | 4.970 dollar AS | 5.120 dollar AS |
| Status saat ini | Menengah atas | Menengah atas |
| Arah target 2045 | Pendapatan tinggi | Negara maju |
Bank Dunia mencatat Vietnam melampaui ambang 4.636 dollar AS untuk kelompok berpendapatan menengah atas dengan GNI per kapita 4.970 dollar AS pada 2025. Untuk mencapai kelompok berpendapatan tinggi pada 2045, negara tersebut masih harus meningkatkan pendapatan per kapitanya hampir tiga kali lipat.
Indonesia membukukan GNI per kapita 5.120 dollar AS pada tahun yang sama. Angka ini menegaskan bahwa kenaikan kategori pendapatan belum dapat dipandang sebagai akhir dari agenda transformasi ekonomi.
Teknologi menjadi arah baru Vietnam
Vietnam mulai menempatkan ilmu pengetahuan, inovasi, transformasi digital, dan industri teknologi tinggi sebagai fondasi pertumbuhan berikutnya. Semikonduktor, AI, robotika, material maju, energi terbarukan, dan teknologi kuantum menjadi sektor yang diprioritaskan.
Pemerintah Vietnam menargetkan belanja riset dan pengembangan mencapai 2 persen PDB. Pada 2026-2030, fokus pembangunan diarahkan pada infrastruktur strategis, produktivitas tenaga kerja, serta pendalaman rantai nilai semikonduktor dan teknologi tinggi.
Ekonomi digital Vietnam diperkirakan bernilai sekitar 72,1 miliar dollar AS pada 2025 atau setara 14,02 persen PDB. Nilainya tumbuh 11,8 persen dan ditargetkan berkontribusi 30 persen PDB pada 2030, lalu 50 persen pada 2045.
Pada fase 2031-2040, Vietnam menargetkan pertumbuhan yang lebih bergantung pada pengetahuan, inovasi, dan transformasi hijau. Pergeseran ini diperlukan karena strategi berbasis manufaktur murah memiliki keterbatasan jangka panjang.
Fondasi lama yang masih dominan
Ekspor dan investasi asing langsung selama ini menjadi penggerak utama ekonomi Vietnam. Nilai perdagangan negara tersebut mencapai 920 miliar dollar AS pada 2025, dengan rasio perdagangan terhadap PDB sebesar 181 persen.
Perdagangan internasional Vietnam tumbuh rata-rata sekitar 10 persen per tahun pada 2021-2025 dan meningkat lebih dari 15 persen dalam dua tahun terakhir. Ekspor riilnya juga tumbuh rata-rata 12 persen per tahun sejak 2000.
Investasi asing langsung menyumbang sekitar 20 hingga 22 persen PDB dan menghasilkan sekitar 75 persen ekspor nasional. Sektor tersebut menyerap lebih dari lima juta pekerja secara langsung serta semakin bergerak ke elektronik dan semikonduktor.
Produktivitas tenaga kerja Vietnam tumbuh rata-rata 5,5 persen per tahun sepanjang 1990-2023. Capaian itu menjadi yang tertinggi kedua di Asia setelah China.
Risiko yang harus diatasi
Ketergantungan terhadap rantai pasok luar negeri masih terlihat dari struktur ekspor Vietnam. OECD menghitung setiap 1 dollar AS ekspor negara itu memerlukan sekitar 0,55 dollar AS impor.
Jonathan Pincus dari Fulbright School of Public Policy and Management menilai transfer teknologi dari perusahaan asing kepada pelaku domestik masih lemah. Kondisi tersebut dapat menghambat upaya Vietnam memperbesar kandungan nilai tambah di dalam negeri.
Bonus demografi juga diperkirakan berakhir pada 2036 karena urbanisasi cepat dan tingkat kelahiran yang menurun. Sesudahnya, peningkatan produktivitas tidak bisa terlalu bertumpu pada perpindahan pekerja dari sektor pertanian ke manufaktur.
Bank Dunia menekankan bahwa teknologi tidak akan cukup tanpa institusi yang kuat dan efektif. Perbaikan investasi publik, regulasi yang sederhana dan transparan, birokrasi profesional, serta penguatan pemerintah daerah menjadi syarat penting bagi fase pertumbuhan berikutnya.
Pelajaran bagi Indonesia terletak pada kebutuhan memperbesar nilai tambah industri sambil meningkatkan produktivitas dan kualitas tata kelola. Target 2045 akan ditentukan oleh kemampuan membangun fondasi ekonomi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.






