Pemerintah menyiapkan simulasi berbagai skenario harga minyak setelah minyak mentah global melonjak tajam. Langkah ini dilakukan untuk menghitung konsekuensi perubahan harga terhadap kebijakan fiskal dan menjaga APBN.
Presiden Prabowo Subianto meminta simulasi tersebut dalam rapat kabinet, menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Pemerintah juga memastikan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan pada tingkat yang berlaku saat ini.
Penjagaan harga BBM bersubsidi menjadi salah satu langkah untuk meredam dampak kenaikan minyak global terhadap masyarakat. Sementara itu, hasil simulasi diperlukan untuk memetakan respons atas kemungkinan pergerakan harga berikutnya.
“Kalau (BBM) yang subsidi akan kita jaga terus. Cuma kemarin waktu di rapat kabinet, Presiden (Prabowo Subianto) meminta kami melakukan simulasi untuk harga minyak dengan skenario yang berbeda,” ujar Purbaya.
Brent Kembali di Atas US$100 per Barel
Harga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan Kamis, 23 Juli 2026. Minyak jenis WTI dan Brent masing-masing naik lebih dari 6 persen dalam perdagangan tersebut.
| Jenis Minyak | Perubahan Harga | Level Perdagangan |
|---|---|---|
| WTI | Naik lebih dari 6 persen | Di atas US$92 per barel |
| Brent | Naik lebih dari 6 persen | Menembus US$100 per barel |
Harga Brent yang menembus US$100 per barel menjadi yang tertinggi sejak awal Juni 2026. Perkembangan ini mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk menambah belanja di luar program yang sudah direncanakan.
Sebelum kenaikan terbaru, penurunan harga minyak sempat memberi pemerintah keleluasaan lebih besar untuk menambah belanja. Ruang tersebut dapat diarahkan kepada pemerintah daerah, kementerian, dan lembaga.
Stimulus Tetap Berjalan
Kenaikan minyak tidak mengubah rencana pelaksanaan stimulus ekonomi pada semester II-2026. Pemerintah menyusun anggaran stimulus dengan asumsi harga minyak mentah global berada di level US$100 per barel.
Purbaya menilai dasar asumsi itu membuat perubahan harga saat ini tidak terlalu signifikan bagi pelaksanaan stimulus. Pemerintah tetap akan memprioritaskan program yang telah ditetapkan dalam anggaran.
“Waktu (rancangan) stimulus kemarin (semester II), dilakukan dengan asumsi harga minyak 100 dolar AS per barel, jadi tidak ada perubahan yang terlalu signifikan,” kata Purbaya. Dengan demikian, tantangan utama berada pada terbatasnya kesempatan untuk membuka belanja tambahan.
APBN Dinilai Tidak Terancam
Purbaya menegaskan kenaikan harga minyak bukan situasi yang asing bagi pengelolaan fiskal Indonesia. Pemerintah terus memperhitungkan kemungkinan yang ada agar dampaknya terhadap APBN dapat dikendalikan.
Menurut dia, ruang anggaran memang semakin terbatas ketika harga minyak kembali menguat. Namun, kondisi itu tidak dipandang sebagai ancaman bagi anggaran negara.
“Artinya sekarang kalau balik lagi (harga minyak naik), ruangnya semakin terbatas saja. Tapi tidak membahayakan APBN sendiri, karena ini bukan keadaan baru kan,” ujar Purbaya. Pemerintah kini berfokus menjaga pelaksanaan anggaran, stimulus, dan perlindungan harga BBM bersubsidi secara bersamaan.
Perhitungan terhadap sejumlah skenario harga minyak akan menjadi dasar pemerintah dalam menilai langkah selanjutnya. Selama kenaikan masih berada di sekitar asumsi yang digunakan untuk stimulus, pemerintah menilai dampaknya masih dapat dikelola.






