Sedikitnya 2.383 rumah roboh atau rusak berat saat gempa besar mengguncang Padang Panjang dan sekitarnya pada 28 Juni 1926. Angka tersebut menjadi pengingat pentingnya bangunan aman gempa di Sumatra Barat, wilayah yang terus menghadapi aktivitas kegempaan.
Di kawasan X Koto, jumlah rumah yang roboh atau rusak berat mencapai 1.709 unit. Bencana itu juga menewaskan 247 orang, termasuk 220 orang di Padang Panjang dan X Koto.
Pelajaran dari Rumah Tradisional
Sekretaris Utama BNPB Rustian mendorong penghidupan kembali kearifan lokal dalam upaya mitigasi bencana. Salah satu contoh yang disorot ialah rumah panggung tradisional Minangkabau dengan konstruksi yang adaptif terhadap guncangan.
Tiang rumah tersebut tidak ditanam langsung ke tanah sehingga bangunan dapat mengikuti arah gerakan ketika gempa terjadi. Prinsip itu dinilai memiliki kemiripan dengan konsep base isolator dalam teknologi konstruksi modern.
Rustian menilai pengurangan risiko bencana perlu masuk dalam perencanaan pembangunan jangka menengah dan jangka panjang. Kebijakan tersebut penting karena gempa besar telah berulang kali terjadi di kawasan Sumatra Barat selama lebih dari dua abad.
Rekonstruksi 2009 Memberi Bekal
Pengalaman gempa Padang 2009 turut menjadi bahan pembelajaran dalam penguatan kesiapsiagaan. Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi menyampaikan sekitar 249.433 rumah mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat akibat peristiwa tersebut.
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa menghasilkan pembelajaran tentang teknologi konstruksi dan standar bangunan tahan gempa. Tata kelola perizinan serta peningkatan kapasitas tenaga tukang juga menjadi bagian dari perhatian setelah bencana itu.
Dody mengingatkan bahwa pekerjaan penting berikutnya adalah menjaga kesadaran masyarakat agar tidak surut seiring waktu. Kesiapan bangunan dan warga menjadi isu yang relevan karena sumber ancaman berada di zona subduksi Mentawai maupun jalur Sesar Sumatra.
| Tahun | Gempa Besar | Keterangan |
|---|---|---|
| 1926 | Padang Panjang-Lembah Anai | Dikenal sebagai Gampo Tujuh Hari |
| 1995 | Kerinci-Solok Selatan | Terjadi di jalur Sesar Sumatra |
| 2007 | Solok-Tanah Datar | Gempa besar di wilayah daratan |
| 2009 | Padang | Merusak rumah dalam jumlah besar |
| 2010 | Gempa dan tsunami Mentawai | Gempa besar di kawasan kepulauan |
| 2022 | Pasaman Barat | Gempa besar terbaru dalam catatan |
Gampo Tujuh Hari dan Jejak Kehancuran
Gempa 1926 tidak hanya menghancurkan rumah di Padang Panjang dan X Koto. Kerusakan meluas ke Fort de Kock atau Bukittinggi, Agam, Batusangkar, Payakumbuh, Maninjau, hingga Lubuk Sikaping, dengan kerugian diperkirakan sekitar 10 juta gulden.
Peristiwa itu disebut Gampo Tujuh Hari karena ratusan gempa susulan berlangsung selama berhari-hari setelah guncangan utama. Getaran bahkan masih dicatat hingga Agustus 1926 dan menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Minangkabau.
Yose Hendra menjelaskan gempa besar di jalur Sesar Sumatra pernah terjadi pada 1822, 1926, dan 2007. Ia juga memaparkan fenomena doublet earthquake, yakni dua gempa utama yang muncul berurutan dalam waktu singkat pada segmen sesar berbeda.
Literasi Bencana Diperkuat di Kampus
Pelajaran dari bencana 1926 dibahas dalam forum bedah buku Gempa Tujuh Hari: Sejarah Gempa 1926 di Dataran Tinggi Padang, Mengingat untuk Bertahan. Acara hybrid itu berlangsung di The Gade Creative Lounge, Perpustakaan Universitas Andalas, Padang.
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas Henny Lucida menyebut forum itu sebagai ruang pertemuan antara riset, pengalaman praktis, dan pelajaran sejarah. Ketua Program Studi S-2 Magister Manajemen Bencana Universitas Andalas, Prof. Yenny Narny, menekankan masyarakat tangguh dibangun lewat pengetahuan, kolaborasi, dan aksi nyata.
Diskusi tersebut menempatkan sejarah gempa bukan hanya sebagai catatan kehancuran. Catatan itu menjadi dasar untuk memperkuat budaya siap siaga, melestarikan pengetahuan lokal, dan menurunkan risiko pada masa depan.






