Farizon V8E menawarkan jarak tempuh maksimum hingga 310 km saat membawa beban maksimal. Van listrik ini kini mulai dirakit di Indonesia melalui fasilitas Handal Indonesia Motor di Purwakarta, Jawa Barat.
Penggunaan baterai lithium iron phosphate berkapasitas 65 kWh menjadi penopang utama daya jelajah tersebut. Motor listrik V8E menghasilkan daya puncak 110 kW dan torsi 220 Nm.
Spesifikasi itu menempatkan V8E sebagai kendaraan niaga listrik yang dipersiapkan untuk pasar Indonesia. Farizon juga membidik kapasitas perakitan sekitar 80 unit setiap bulan untuk model ini.
Ukuran dan Data Teknis V8E
V8E memiliki panjang 5.395 mm, lebar 1.820 mm, dan tinggi 1.985 mm. Jarak sumbu roda van ini mencapai 3.600 mm.
Berat total kendaraan ketika beroperasi penuh berada di angka 3.500 kg. Data tersebut melengkapi informasi performa penggerak listrik dan kapasitas baterai V8E.
| Rincian | Farizon V8E |
|---|---|
| Panjang | 5.395 mm |
| Lebar | 1.820 mm |
| Tinggi | 1.985 mm |
| Jarak sumbu roda | 3.600 mm |
| Baterai | Lithium iron phosphate 65 kWh |
| Daya puncak motor | 110 kW |
| Torsi | 220 Nm |
| Jarak tempuh maksimum | 310 km |
Produksi Tidak Langsung Maksimal
Target 80 unit per bulan akan ditempuh secara bertahap. Farizon masih akan melihat respons pasar sebelum menaikkan volume perakitan V8E.
Director Arista Manufacturing Indonesia Christoforus Ronny menyatakan kondisi pasar menjadi pertimbangan utama perusahaan. “Bertahap, kami juga mau lihat kondisi pasar seperti apa,” ujarnya.
Dengan strategi tersebut, produksi V8E akan berkembang sejalan dengan kebutuhan kendaraan niaga listrik. Kapasitas yang dituju belum berarti seluruh unit akan langsung diproduksi sejak awal kegiatan perakitan.
Investasi dan Target Komponen Lokal
Arista Manufacturing Indonesia telah menginvestasikan sekitar Rp40 miliar hingga Rp50 miliar untuk proses perakitan kendaraan Farizon di fasilitas HIM. Investasi itu terutama digunakan untuk menambah peralatan produksi.
Perakitan V8E di Purwakarta juga disertai proyeksi TKDN hingga 40 persen. Akan tetapi, perusahaan belum mengajukan sertifikasi untuk nilai kandungan lokal tersebut.
Christoforus Ronny menyebut angka 40 persen masih merupakan perkiraan. “Untuk TKDN kita perkirakan sekarang ya prospeknya akan ke 40 persen. Tapi ini kan kita belum mengajukan sertifikasinya ya,” katanya.
Sebelum V8E, Farizon telah meluncurkan model SV yang berukuran lebih besar. Berbeda dari V8E yang mulai dirakit secara lokal, Farizon SV masih berstatus CBU.
Mulainya perakitan V8E memberi dasar produksi domestik bagi van listrik Farizon. Kelanjutan volume produksi dan pencapaian TKDN akan mengikuti dinamika pasar serta proses sertifikasi yang belum diajukan.






