Kemampuan Fahira Almira berjalan kaki dan naik pesawat saat berobat ke luar negeri menjadi titik penting dalam perbincangan mengenai diagnosis usus buntu yang pernah diterimanya. Menurut Prof Ari Fahrial Syam, aktivitas tersebut bisa terjadi apabila pasien tidak lagi berada dalam kondisi akut.
Dalam fase akut, usus buntu biasanya menimbulkan nyeri sangat kuat di bagian kanan bawah perut. Keluhan itu dapat membuat pasien relatif sulit berjalan.
Prof Ari, Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, menilai aktivitas Fahira tidak sesuai bila dipahami sebagai kondisi akut yang berlangsung pada saat perjalanan. Namun, ia menekankan bahwa keadaan pasien dapat berubah setelah menjalani pengobatan.
“Jadi memang kurang pas juga kalau dibilang pasien bisa naik pesawat, kemudian bisa berobat ke rumah sakit di sana, jalan kaki, segala macam, dinyatakan sebagai kondisi yang akut,” ujar Prof Ari. Penilaian medis perlu mempertimbangkan kapan keluhan awal muncul dan kapan pasien melakukan perjalanan.
Jeda waktu tidak boleh diabaikan
Pasien yang pada awalnya diduga mengalami apendiks akut dapat membaik setelah ditangani. Karena itu, kondisi yang ditemukan beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian belum tentu sama dengan kondisi awal.
Prof Ari menyebut sebagian masalah usus buntu dapat ditangani tanpa operasi. Setelah pengobatan, gejala dapat menghilang dalam dua hingga tiga minggu, bahkan kondisi pasien dapat berubah dalam rentang beberapa bulan.
“Kalau waktunya sudah 3 bulan, ada kemungkinan bahwa ketika di awal memang diduga apendiks akut, tapi setelah diobati sudah membaik dan pasien 3 bulan begitu bisa berubah,” kata Prof Ari kepada health.detik.com. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa membandingkan dua pemeriksaan tanpa melihat rentang waktunya dapat menimbulkan tafsir yang tidak lengkap.
Fahira sebelumnya membagikan pengalaman membandingkan layanan kesehatan terkait keluhan yang dialaminya. Ia menyampaikan mendapat keterangan berbeda saat menjalani pemeriksaan di rumah sakit Indonesia dan rumah sakit di Penang, Malaysia.
| Lokasi Pemeriksaan | Keterangan yang Disampaikan Fahira |
|---|---|
| Rumah sakit di Indonesia | Didiagnosis mengalami usus buntu |
| Rumah sakit di Penang | Dinyatakan sebaliknya oleh tenaga medis |
Perbedaan keterangan itu memicu pertanyaan di kalangan publik, terutama karena Fahira terlihat tetap dapat bepergian. Prof Ari memandang kemampuan beraktivitas tersebut perlu dibaca sebagai kondisi pasien pada waktu tertentu, bukan sebagai gambaran tunggal dari seluruh perjalanan penyakitnya.
Pasien yang sudah mengalami perbaikan dapat datang ke pemeriksaan berikutnya tanpa gejala akut yang sama. Dalam keadaan itu, hasil penilaian tenaga medis berikutnya dapat berbeda dari dugaan ketika keluhan pertama kali terasa.
Penjelasan mengenai perubahan gejala juga menjadi alasan mengapa aktivitas fisik tidak dapat digunakan sendiri untuk menarik kesimpulan medis. Naik pesawat, berjalan kaki, dan mencari pemeriksaan lanjutan mungkin dilakukan setelah keluhan mereda.
Prof Ari mengingatkan masyarakat tanpa latar belakang medis agar berhati-hati saat membahas kondisi kesehatan orang lain. Sikap tersebut penting agar perbedaan informasi tidak berkembang menjadi kesimpulan yang keliru.
Kasus Fahira Almira memperlihatkan bahwa waktu pemeriksaan, penanganan yang sudah dijalani, dan perubahan gejala merupakan bagian penting dalam memahami dugaan usus buntu akut. Ketiga hal itu perlu dilihat secara bersama sebelum menilai apakah seseorang masih berada dalam fase akut atau telah membaik.






