Es Antartika Berawal dari Daratan yang Terangkat, Pendinginan Global Menyusul

Lapisan es Antartika tidak hanya menjadi akibat pendinginan Bumi, tetapi juga ikut memperkuatnya. Ketika es mulai menyelimuti daratan tinggi di selatan, permukaan putihnya memantulkan lebih banyak cahaya Matahari dan diperkirakan menurunkan suhu global sekitar 1 derajat Celsius.

Namun proses itu baru terjadi setelah Antartika memiliki bentang alam yang cukup tinggi untuk menahan salju sepanjang musim panas. Daratan yang terangkat selama puluhan juta tahun memberi benua ini keunggulan yang tidak dimiliki sebagian besar kawasan Arktik.

Es yang Memantulkan Panas Matahari

Permukaan es yang cerah bekerja melalui efek albedo-es, yakni memantulkan sebagian lebih besar sinar Matahari kembali ke luar angkasa. Dr. Philip Goodwin, fisikawan iklim dari Universitas Southampton, memperkirakan mekanisme tersebut mendorong penurunan suhu global sekitar 1 derajat Celsius.

Pendinginan ini belum cukup untuk menghasilkan lapisan es sebanding di Belahan Bumi Utara. Antartika tetap lebih unggul karena esnya tumbuh di atas daratan tinggi, sementara banyak wilayah daratan Arktik berada pada elevasi lebih rendah.

Atmosfer lokal Antartika juga menjadi semakin kering ketika suhu turun. Udara dingin menyimpan lebih sedikit uap air, sehingga pengaruh gas penahan panas itu melemah dan proses pendinginan dapat berlanjut.

Daratan Tinggi Mendahului Glasiasi

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science memperkirakan sebagian besar Antartika Timur telah melampaui ketinggian sekitar 2 kilometer pada 45 juta tahun lalu. Glasiasi besar kemudian dimulai sekitar 34 juta tahun lalu, ketika salju mampu bertahan dan terus menumpuk menjadi es permanen.

Kenaikan elevasi memiliki dampak langsung terhadap suhu karena udara dapat mendingin hingga sekitar 1 derajat Celsius setiap naik 100 meter. Ambang 2 kilometer membuat gletser pegunungan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan melewati musim panas.

PeriodeKondisi DaratanDampak Iklim
Sebelum 50 juta tahun laluMayoritas Gamburtsev di bawah 1,5 kilometerKondisi es permanen belum meluas
Sekitar 45 juta tahun laluAntartika Timur mencapai sekitar 2 kilometerSalju lebih mudah bertahan
Sekitar 34 juta tahun laluHampir separuh Gamburtsev di atas 2 kilometerGlasiasi besar dimulai

Lanskap yang Dibangun dari Dalam Bumi

Para peneliti menelusuri lebih dari 100 juta tahun perubahan lanskap melalui simulasi komputer. Kajian itu menggabungkan informasi mengenai pecahnya lempeng tektonik, gerakan mantel Bumi, erosi, pembentukan pegunungan, hingga kemunculan es permanen.

Perubahan bermula ketika Antartika dan Afrika mulai terpisah pada periode Jura, sekitar 201 hingga 143 juta tahun lalu. Peristiwa ini mengganggu batuan panas yang bergerak lambat di bawah kerak Bumi.

Menurut Kompas.com, gangguan dalam mantel secara perlahan mengikis material dari akar benua. Material berat itu tenggelam, sedangkan permukaan daratan justru mengalami pengangkatan selama puluhan juta tahun.

Proses tersebut membentuk tebing pantai setinggi sekitar dua kilometer, dataran tinggi yang luas, dan Pegunungan Gamburtsev di pedalaman. Kini, banyak bagian lanskap itu tertutup lapisan es dengan ketebalan sekitar 1 hingga 3 kilometer.

Keuntungan yang Tidak Dimiliki Kutub Utara

Penurunan CO2 pada masa itu tetap berperan dalam perubahan iklim, tetapi tidak dapat menjelaskan sendiri perbedaan waktu pembekuan kedua kutub. Antartika memiliki topografi tinggi yang sudah dingin sebelum es benua terbentuk.

Thomas Gernon, Profesor Ilmu Kebumian dari Universitas Southampton dan penulis utama studi, mengatakan pengangkatan bertahap memungkinkan es memperoleh pijakan permanen meski suhu global masih relatif hangat. Es lalu menyebar dari pegunungan ke garis pantai dan membentuk Lapisan Es Antartika Timur, cadangan air beku setara kenaikan permukaan laut global sekitar 52 meter jika mencair sepenuhnya.

Baca Juga